Bisikan di Tengah Gelap, Malam sebagai Wadah Rasa dan Kenangan
Pada suatu malam yang sunyi, aku menatap langit yang gelap gulita. Tidak ada bintang, tidak ada bulan; hanya kegelapan yang membentang luas, seakan menelan seluruh dunia. Suasana itu membuat hati sedikit bergetar, seperti ada sesuatu yang menunggu untuk didengar. Dengan suara nyaris tenggelam dalam keheningan, aku bertanya, “Hai, sang malam, mengapa engkau begitu gelap gulita?”
Sejenak, aku menahan napas, menunggu. Suara malam itu datang, lembut namun penuh wibawa. “Manusia, aku adalah penguasa waktu yang ditakuti banyak insan. Ketika dunia kehilangan penerangan, maka kegelapan adalah wujudku.”
Aku terdiam. Kata-katanya meresap perlahan, seperti hujan tipis yang menyentuh daun, lembut namun membekas. Malam bukan sekadar ketiadaan cahaya. Malam adalah ruang di mana segala hal yang tersembunyi menjadi nyata rasa, kerinduan, ketakutan, bahkan harapan yang tak berani diucapkan. Dalam gelap, perasaan terasa lebih tajam, lebih murni, lebih dekat dengan inti diri.
Aku mulai berbisik, nyaris tak terdengar, seolah takut mengganggu ketenangan malam. Bisikanku bukan untuk dunia, bukan untuk rumah-rumah di sekitarku, melainkan untuk seseorang yang berada di tengah gelap, yang mungkin berjalan tanpa cahaya penuntun.
“Katakan padanya,” bisikku pelan, “aku di sini berpikir dalam sistem kepala, menjaga sebuah organ berwarna merah, bukan darah, namun tempat segala rasa bermula.”
Aku berbicara tentang hati. Bukan sekadar organ biologis, tetapi tempat di mana rindu, harap, takut, dan keberanian bertemu. Hati adalah labirin rahasia yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah tersesat dalam gelap.
Malam mengajarkanku kesabaran. Kesabaran untuk mendengar tanpa tergesa, kesabaran untuk menunggu tanpa keluhan, dan kesabaran untuk menerima bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan. Di tengah gelap, aku menyadari betapa sering manusia terjebak pada rutinitas, membiarkan hari-hari berlalu tanpa benar-benar menyadari perasaan mereka sendiri. Kita sibuk berbicara, tapi jarang berhenti untuk mendengar; sibuk melihat, tapi jarang menatap dengan makna; sibuk mencintai, tapi jarang mengekspresikan cinta dengan kesadaran.
Aku membayangkan dia, yang berada di tengah gelap itu. Mungkin dia pun merasakan hal yang sama: kesepian yang bukan tentang keterasingan, tetapi tentang ruang di mana perasaan bisa bebas. Aku ingin menyampaikan kepadanya bahwa meski dunia gelap dan tak menuntun, ada yang selalu memikirkan, menjaga, dan berharap.
Dalam keheningan malam itu, aku teringat kembali memori yang terpendam. Saat senja menguning di tepian sungai, ketika kami tertawa tanpa alasan, atau ketika matahari terbenam dan kami hanya diam menatap langit, aku menyadari bahwa setiap momen sederhana itu meninggalkan jejak rasa. Jejak itu masih hidup dalam hati, meski dunia berubah dan waktu terus melaju.
Bisikanku padanya bukan hanya kata-kata. Itu adalah pengakuan, pengingat bahwa hati yang jujur tak pernah tidur. Hati yang peduli selalu menunggu, selalu menjaga meski jarak memisahkan, selalu berbicara meski suara tak terdengar. Setiap detik yang kulalui dalam keheningan itu, aku merasa semakin dekat dengan rasa yang tak bisa diungkapkan dengan cara biasa.
Malam menjadi cermin. Aku melihat diri sendiri dalam kegelapan, bukan dengan mata, tetapi dengan jiwa. Aku melihat ketakutan yang selama ini tersembunyi, kerinduan yang tak pernah selesai, dan harapan yang kadang terlupakan. Di malam itu, aku belajar bahwa keberanian sejati bukanlah ketika kita menaklukkan dunia, tetapi ketika kita berani menaklukkan diri sendiri berani merasakan, berani menunggu, berani berharap.
Dan malam? Ia tetap diam, penuh rahasia, seperti saksi yang setia. Ia tidak menilai, tidak tergesa-gesa, hanya membiarkan segala perasaan mengalir. Malam mengajarkanku bahwa ada kekuatan dalam kesunyian, ada keindahan dalam kegelapan, dan ada ketenangan dalam menerima bahwa tidak semua hal perlu dijelaskan.
Aku membiarkan pikiranku mengembara lebih jauh, melewati kenangan demi kenangan, melewati setiap detik yang pernah kita habiskan bersama, sampai aku menyadari sesuatu: gelapnya malam adalah teman, bukan musuh. Gelap memungkinkan kita melihat hal-hal yang tidak bisa terlihat di siang hari. Gelap memungkinkan bisikan hati menemukan jalannya, meski tidak terdengar oleh telinga.
Aku menutup mata dan membayangkan dia, berjalan di tengah gelap itu. Aku membisikkan lagi, lebih lembut kali ini, “Meski engkau tak melihatku, meski tak mendengar suaraku, aku ada di sini. Aku menjaga hati ini untukmu, aku menyimpan rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata.”
Setiap bisikan itu adalah benih. Benih yang kelak akan tumbuh menjadi cahaya, bukan cahaya yang terlihat dengan mata, tetapi cahaya yang dirasakan dalam hati. Dan aku percaya, dia akan merasakannya. Tidak dengan telinga, tetapi dengan sesuatu yang lebih dalam, yang mengerti tanpa harus dijelaskan.
Malam terus membentang. Suara angin lembut menyapu dedaunan, menciptakan musik sunyi yang hanya bisa didengar oleh mereka yang diam. Aku mendengar suara itu, dan rasanya seperti dunia berhenti sejenak, memberi ruang bagi perasaan untuk mengalir tanpa hambatan. Aku menyadari, malam ini bukan sekadar waktu; malam adalah guru, sahabat, dan saksi sekaligus.
Dalam kesunyian itu, aku belajar hal lain: bahwa cinta dan perhatian tidak selalu tentang kehadiran fisik. Kadang, cinta adalah tentang menunggu dalam diam, tentang menjaga meski tak terlihat, tentang berbicara tanpa suara, dan tentang percaya meski tak yakin kapan pesan itu sampai. Aku belajar bahwa kekuatan hati tidak bergantung pada jarak atau waktu, tetapi pada kesungguhan perasaan itu sendiri.
Dan aku terus berbisik. Aku berbicara pada gelap, pada angin, pada bayangan yang menari di pepohonan. Aku berbicara pada hati yang jauh, berharap suatu saat dia mendengar. Aku tahu, meski dunia tetap gelap, bisikan ini akan menemukan jalannya. Seperti sungai yang terus mengalir meski diterpa batu, seperti cahaya yang tetap bersinar meski tertutup awan.
Fajar akhirnya mulai menyingsing, membawa cahaya lembut yang menyingkap gelap perlahan. Namun, bisikan itu tetap hidup, menjadi bagian dari malam, menjadi bagian dari hati, menjadi bagian dari diri yang selalu berharap dan selalu menunggu. Aku tersenyum. Malam telah menuntunku menyadari hal-hal yang sederhana namun penting: bahwa rasa, perhatian, dan keberanian untuk merasakan adalah cahaya sejati yang tak akan pernah padam, meski dunia gelap gulita.
Aku menatap langit yang kini mulai memerah, dan dalam hati aku berjanji,“Setiap malam, aku akan terus berbisik. Setiap gelap, aku akan terus menjaga rasa ini. Karena dalam kegelapan, aku menemukan diriku, dan aku menemukanmu.”
Dan malam, sang penguasa waktu, tetap diam, menunggu, dan menjadi saksi dari segala bisikan, kerinduan, dan harapan yang lahir dari hati manusia. Malam menjadi ruang sakral bagi segala rasa, tempat di mana cinta, kesetiaan, dan keberanian hidup dalam diam.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E

Komentar
Posting Komentar