Riwayat Angin yang Tersesat di Balik Kelopak Batu
Konon, jauh sebelum laut mengenal pasang dan gunung mengetahui arti kesunyian, berdirilah sebuah negeri tanpa nama di tepian timur cakrawala. Negeri itu tidak tercatat dalam peta mana pun, sebab orang-orang menyebutnya hanya dengan isyarat: tiga ketukan pada pintu kayu dan sehelai daun yang dibiarkan hanyut di sungai. Di sanalah hidup seorang lelaki bernama Aruna, meskipun nama itu bukanlah nama sesungguhnya. Orang-orang tua mengatakan bahwa ia lahir pada malam ketika tujuh burung gagak terbang melawan arah rembulan, pertanda bahwa hidupnya akan dipenuhi jalan-jalan yang tidak menuju mana pun. Aruna bekerja sebagai penjaga lentera di Menara Haningrat, sebuah bangunan tua yang puncaknya tertutup kabut sepanjang musim. Setiap senja, ia menyalakan seratus dua belas pelita dengan minyak yang diracik dari bunga-bunga yang tidak pernah mekar. Namun, sesungguhnya ia tidak menjaga cahaya. Ia menjaga kenangan. Pada musim gugur yang keempat belas setelah kematian ayahnya, seorang perempuan datan...