Arak-Arakan Ronthek dan Perempuan yang Hilang dari Pelukan Waktu
Malam kian menua. Jarum jam telah melewati bilangan yang biasa digunakan para pedagang untuk menutup warungnya, tetapi jalan-jalan di Pacitan justru semakin ramai oleh manusia yang hendak merayakan sukacita. Di bawah cahaya lampu yang berpendar kekuningan, ribuan langkah bersatu menuju alun-alun, menuju bunyi kentongan yang sejak sore telah dipukul bertalu-talu. Dari berandanya yang sunyi, lelaki itu memandang arus manusia yang mengalir bagai sungai tanpa hulu. Anak-anak kecil duduk di pundak ayah mereka, para pemudi mengenakan kebaya terbaik, dan para pemuda berjalan sambil tertawa, seolah malam itu tak akan pernah berakhir. Namun, bagi dirinya, malam justru terasa begitu panjang. Di atas meja kayu tua, tergeletak sebuah saputangan berwarna biru pudar. Benda itu tampak biasa bagi siapa pun yang melihatnya. Akan tetapi, baginya, saputangan itu menyimpan seluruh musim yang pernah mereka lalui bersama. Ia mengambilnya perlahan. Aroma waktu telah menghapus sebagian besar kenangan yang mel...