Kedaulatan yang Dijual Murah: Ketika Rupiah Tak Lagi Punya Harga Diri
Nasional - Rupiah kembali babak belur. Dolar Amerika Serikat melesat hingga menyentuh kisaran Rp17 ribuan. Angka yang dulu dianggap mimpi buruk ekonomi, kini perlahan dipaksa menjadi sesuatu yang “normal”. Dan seperti biasa, rakyat diminta tenang. Diminta percaya bahwa semuanya masih terkendali. Padahal kenyataannya? Yang tidak terkendali justru harga kebutuhan hidup. Beras naik. Minyak goreng naik. Barang elektronik naik. Suku cadang naik. Obat-obatan ikut naik. Bahkan secangkir kopi di warung pun diam-diam mulai ikut menyesuaikan keadaan. Sebab ketika dolar naik dan rupiah ambruk, yang paling pertama menjerit bukan pejabat negara. Tapi rakyat kecil yang hidupnya sudah megap-megap bahkan sebelum krisis datang. Ironisnya, di tengah situasi seperti ini, pidato tentang “ekonomi kuat” masih terus dipertontonkan di panggung-panggung kekuasaan. Statistik dipoles. Angka pertumbuhan dibanggakan. Grafik investasi dipamerkan seolah semuanya baik-baik saja. Tetapi rakyat tahu satu hal sederhana:...