Melukis di Angkasa: Ketika Harapan Diletakkan di Tangan Allah SWT
Ada masa dalam hidup ketika kita merasa begitu lelah menjadi manusia. Hari-hari berjalan seperti biasa, tetapi di dalam dada ada banyak hal yang tak pernah selesai. Ada impian yang belum tercapai, doa yang belum dijawab, dan harapan yang sesekali tampak redup karena kenyataan tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Di tengah keadaan seperti itu, saya sering membayangkan diri sedang melukis di angkasa. Bukan dengan kuas yang terbuat dari bulu atau cat yang dibeli di toko. Kuas itu saya buat dari doa-doa yang hampir saya buang karena merasa tak lagi memiliki kekuatan untuk mengulanginya. Warnanya saya ambil dari senja yang pernah membuat saya diam cukup lama, memandang langit dengan mata yang basah tanpa diketahui siapa pun. Mungkin terdengar puitis. Namun, bukankah hidup memang sering kali lebih dekat dengan puisi daripada logika? Kita menjalani hari demi hari dengan membawa begitu banyak perasaan yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh kata-kata. Saya percaya setiap manusia p...