Bayang-Bayang di Balik Kembang Senja
Pada masa ketika desir angin masih dianggap utusan alam, ketika dedaunan yang gugur dibaca sebagai perlambang isi kalbu, dan ketika segala rasa lebih sering dipendam daripada diucapkan, hiduplah seorang pengelana muda bernama Aruna. Pada suatu petang yang lengang, tatkala cahaya surya mulai tenggelam di balik pucuk-pucuk pepohonan, berjumpalah ia dengan seorang dara yang oleh orang-orang di kampung hanya disebut Sekar Wening. Parasnya teduh laksana rembulan pada malam purnama, tetapi hatinya tersimpan rapat bagaikan mutiara di dasar samudra. Aruna menatap dara itu dengan penuh hormat. "Wahai putri yang elok budinya," tuturnya perlahan, "kiranya berkenankah paduka menerima hidangan sederhana sebagai penawar penat perjalanan?" Sang dara hanya menggeleng perlahan. "Hamba tiada berkehendak." Pemuda itu kembali merendahkan suaranya. "Janganlah sungkan. Pilihlah santapan apa pun yang kiranya berkenan di hati. Segala ikhtiar akan hamba usahakan." Sekar ...