Malam yang Kehilangan Bayang
Tatkala rembulan menggantung pucat di langit sebelah selatan, dan desir angin dari laut Pacitan mengembara menyusuri jalan-jalan batu yang mulai lengang, seorang lelaki duduk seorang diri di beranda rumahnya. Di kejauhan, suara tabuh Ronthek menggema laksana panggilan dari masa silam, memecah sunyi yang bersarang di dalam dada. Malam itu bukan malam yang asing baginya. Ia mengenali segala pertanda yang hadir: aroma tanah selepas senja, cahaya lampu yang memantul di genangan air, serta suara riuh manusia yang berbondong-bondong menuju alun-alun kota. Festival Ronthek Pacitan tahun itu kembali digelar dengan segala kemegahannya. Namun, bagi dirinya, gemerlap itu hanyalah lentera-lentera yang menerangi kehampaan. “Ah, beginikah rupanya nasib manusia?” gumamnya lirih. Dahulu, pada malam-malam serupa, langkah mereka pernah beriringan menyusuri jalan yang sama. Gadis itu berjalan di sisinya, dengan senyum yang lebih hangat daripada pelita dan tawa yang mampu mengalahkan nyanyian ombak. Setia...