Lentera Terakhir di Ujung Festival
Minggu malam telah datang, membawa udara dingin yang turun perlahan dari perbukitan dan menyusup ke sela-sela rumah-rumah tua di Kota Pacitan. Tidak ada hujan malam itu. Langit justru tampak bersih, dipenuhi gugusan bintang yang bertaburan seperti serpihan kenangan yang enggan padam. Festival Ronthek Pacitan 2026 memasuki malam penghabisan. Tiga malam berturut-turut, kota kecil di tepi selatan Jawa itu telah dipenuhi cahaya, suara kentongan, dan ribuan manusia yang datang dari segala penjuru. Jalan-jalan yang biasanya lengang menjelma lautan langkah. Tawa anak-anak, sorak para penonton, serta irama rontek yang menggetarkan dada, semuanya menyatu menjadi sebuah perayaan yang hanya datang setahun sekali. Namun, bagi lelaki itu, malam terakhir festival bukanlah tentang kemeriahan. Ia adalah perpisahan. Bukan perpisahan dengan seseorang yang baru dikenalnya kemarin sore, melainkan perpisahan dengan kenangan yang selama ini diam-diam ia rawat dalam kesunyian. Dari sudut sebuah warung kopi y...