Kekuatan Menakutkan Kesunyian dari Seorang Pria Sejati
Ada suatu masa ketika seorang pria harus berhenti menjadi suara yang selalu terdengar. Bukan karena ia kehabisan kata-kata. Bukan karena perasaannya telah mati. Dan bukan pula karena ia ingin menghukum seorang perempuan yang pernah ia tempatkan begitu istimewa. Ia hanya mulai memahami satu hal: Tidak semua orang yang kita beri ruang layak menjadikan ruang itu sebagai rumah. Selama ini, mungkin seorang perempuan telah terbiasa menjadi seperti seorang putri di dalam istana perhatian. Pesannya selalu ditunggu. Kehadirannya selalu dicari. Diamnya selalu dipertanyakan. Bahkan hal kecil darinya mampu mengubah suasana hati seorang pria. Perhatian diberikan tanpa perhitungan. Waktu diberikan tanpa batas. Dan perlahan-lahan, tanpa disadari, seorang pria mulai menempatkan kebahagiaannya di tangan orang lain. Di situlah ia kehilangan sesuatu yang lebih mahal daripada cinta: kedaulatan atas dirinya sendiri. Stoikisme tidak mengajarkan seorang pria untuk membenci perempuan yang tidak menghargainya....