Perjamuan Sunyi di Bawah Reruntuhan Langit Kedelapan
Musim gugur belum benar-benar pergi ketika salju pertama turun. Ia jatuh bukan dari langit, melainkan dari arah utara sungai. Penduduk Haningrat tidak mempersoalkannya. Di negeri yang sungainya mengalir menuju hulu dan burung-burung tidur dengan mata terbuka, salju yang jatuh dari tempat yang salah hanyalah satu dari sekian banyak keganjilan yang telah lama mereka terima sebagai hukum kehidupan. Tetapi bagi Aruna, salju itu membawa pertanda. Sejak pagi, ia menemukan kelopak-kelopak bunga putih berserakan di tangga Menara Haningrat. Bunga itu tidak tumbuh di negeri mereka. Bahkan tidak tumbuh di dunia manusia. Aruna mengambil salah satunya. Di tengah kelopak terdapat setitik darah. Ia menggenggamnya erat. Dan untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, tangannya gemetar. Lian Yue tidak datang sore itu. Tidak pula ketika matahari berubah menjadi warna tembaga. Aruna menunggu di tangga batu hingga lentera-lentera menara menyala sendiri. Malam turun. Lian Yue tetap tidak datang. Pada mala...