Sibuk Menaklukkan Dunia, Manusia Lupa Bertanya: Apakah Ia Masih Punya Hati

Manusia hari ini begitu sibuk mengejar pengakuan, kekuasaan, dan kemenangan. Kita berlomba menaklukkan dunia, menguasai alam, dan meninggikan diri sendiri namun jarang sekali berhenti untuk bertanya: apakah semua itu masih sejalan dengan suara hati? Kita pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi gagap saat diminta jujur pada diri sendiri. Kita mengutuk kerusakan, sambil terus ikut merusaknya. Dalam hiruk-pikuk itulah aku memilih diam, lalu bercerita kepada alam satu-satunya ruang yang tak pernah berpura-pura.

Ada masa di hidupku ketika aku memilih diam. Bukan karena tak punya kata, tetapi karena terlalu banyak pertanyaan yang tak menemukan jawabannya di tengah hiruk-pikuk dunia. Maka aku bercerita kepada alam semesta tempat paling jujur untuk menitipkan resah.

Aku pernah berkata dalam sunyi, jika kelak alam membawaku pada kejayaan, aku siap menerimanya dengan rendah hati. Namun jika hidup justru menghinakanku, aku pun siap menjalaninya. Kalimat itu bukan tentang pasrah yang lemah, melainkan kesiapan untuk tetap berdiri apa pun yang terjadi.


















Mencari Kebenaran

Di tengah perbincangan batin itu, satu pertanyaan terus mengusik: apakah kebenaran benar-benar ada? Dan jika ada, seperti apa wujudnya?

Dalam perenungan panjang, alam seolah menjawab dengan sederhana namun menohok, kebenaran itu ada di dalam hatimu. Aku terdiam. Barangkali selama ini aku terlalu sibuk mencari pembenaran di luar, padahal jawabannya bersemayam di dalam diri sendiri.

Hati, jika mau didengarkan dengan jujur, selalu tahu mana yang benar dan mana yang hanya ingin dibenarkan. Masalahnya, mendengarkan hati membutuhkan keberanian-keberanian untuk jujur pada diri sendiri.

Tentang Hidup dan Ketergantungan

Alam seolah melanjutkan bisikannya: ada aku, dan tanpaku hidupmu tak akan ada. Kalimat itu membuatku tersadar bahwa sehebat apa pun manusia merasa, ia tetap bergantung pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Udara yang kita hirup, air yang kita minum, tanah yang kita pijak semuanya adalah bagian dari sistem kehidupan yang sering kita anggap biasa. Padahal tanpa semua itu, dunia akan kehilangan maknanya.

Kesadaran ini membuatku berpikir ulang tentang caraku memandang hidup. Barangkali selama ini aku terlalu fokus pada ambisi, lupa bahwa hidup sendiri adalah pinjaman.


















Hidup sebagai Amanah

Pada titik itu aku memahami satu hal: hidup bukan sekadar kesempatan, tetapi amanah. Ada tanggung jawab yang ikut melekat di dalamnya. Amanah untuk menjaga, bukan merusak. Amanah untuk memberi, bukan hanya mengambil.

Alam tidak menuntut kita menjadi sempurna. Ia hanya meminta kita untuk peduli. Tidak serakah. Tidak merasa paling berkuasa.

Ketika alam seakan berkata, aku mengerti apa yang tidak engkau ketahui, aku belajar tentang kerendahan hati. Bahwa tidak semua hal harus kita pahami sekarang. Ada proses, ada waktu, ada rahasia kehidupan yang berjalan di luar nalar manusia.

Jejak yang Ingin Ditinggalkan

Alam adalah tempat kita dihidupkan dan kelak dimatikan. Di antara dua titik itu, kita diberi ruang untuk meninggalkan jejak. Pertanyaannya sederhana: jejak seperti apa yang ingin kita wariskan?

Berbuat baik pada alam sejatinya adalah berbuat baik pada diri sendiri. Karena apa yang kita tanam hari ini, akan kita petik di kemudian hari atau akan diwarisi oleh generasi setelah kita.

Tulisan ini bukan tentang menggurui. Ini hanya catatan kecil seorang manusia yang sedang belajar memahami hidup, kebenaran, dan amanahnya di dunia. Semoga kita semua bisa lebih ramah pada alam, dan lebih jujur pada hati sendiri.

Barangkali masalah terbesar manusia bukanlah ketidaktahuan, melainkan keengganan untuk sadar. Kita tahu hidup ini titipan, tapi bertindak seolah pemilik mutlak. Kita tahu alam memberi kehidupan, namun memperlakukannya seperti objek tanpa nilai. Kita tahu kebenaran ada di hati, tetapi memilih membungkamnya demi ambisi.

Tulisan ini bukan seruan suci, apalagi klaim paling benar. Ini hanya pengingat yang jujur dan mungkin menyakitkan: jika manusia terus merasa berhak atas segalanya tanpa rasa tanggung jawab, maka kehancuran bukanlah hukuman melainkan akibat. Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa besar dunia yang berhasil kita taklukkan, melainkan apakah saat hidup berakhir, kita masih bisa mengatakan bahwa kita pernah menjaga amanah sebagai manusia.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewati Masa Bujangan dengan Penuh Makna

Membongkar Tabir Gelap: Fenomena Praktik Esek-Esek Terselubung di Pacitan

TIARA HILLS HOMESTAY AND CAMPING GROUND