Cahaya yang Tak Bisa Dipahami, Sebuah Renungan Malam
Ada malam ketika dunia tampak diam. Tapi diam itu hanyalah ilusi. Di dalam diri kita, segala sesuatu tetap bergerak, bergelombang, dan menekan. Aku berdiri di tepi waktu, menatap langit hitam yang tak berbatas, sementara cahaya entah berasal dari bintang yang jauh, lampu yang samar, atau sesuatu yang tak terlihat menggetarkan diriku. Aku gemetar bukan karena cahaya itu hadir, tetapi karena sesuatu dalam diriku tersesat, tak menemukan jalan pulang.
Cahaya selalu dianggap penerang, penuntun, dan pembimbing. Namun malam ini mengajarkanku bahwa cahaya bisa datang terlalu cepat. Ia seperti ingatan yang menembus ruang sebelum sempat diingat, seperti rasa yang hadir sebelum sempat dipahami. Ada kecepatan yang membuat kita terhanyut, sebelum kita sadar. Kita mencoba menahan, menangkis, atau mengabaikan, tapi cahaya itu telah menyusup, menempel di dalam, dan membuat tubuh serta pikiran terasa asing pada diri sendiri.
Ada suara tanpa bunyi yang masuk melalui sela napas. Ia tidak bertanya, tidak menjelaskan, namun seketika seluruh tubuhku merasakan sesuatu sesuatu yang pernah ada, tapi tak bisa diingat kapan, di mana, atau bagaimana. Perasaan itu purba, seperti luka yang belum tahu bahwa ia telah dilukai. Ia bukan rindu, meski mirip. Rindu memiliki arah, tujuan, dan nama. Yang ini lain lebih dasar, lebih dalam, lebih manusiawi dalam arti paling murni.
Aku mulai menyadari bahwa perasaan ini tak bisa dikategorikan. Tidak bisa dimasukkan dalam kata-kata. Ia berdiri sendiri, seperti pohon di hutan yang tumbuh tanpa arah, tanpa pemelihara, hanya mengikuti naluri hidupnya. Cahaya dan gelap, datang dan hilang, semuanya bercampur di ruang yang tak memiliki waktu. Pikiran menyerah sebelum sempat memahami. Di sinilah perasaan tumbuh tanpa nama, tanpa sebab, dan tanpa logika.
Cahaya malam ini bukan sekadar melihat, tapi merasakan. Ia peringatan bahwa kita tak selalu bisa memahami segala sesuatu. Gelapnya malam mengajarkan kita tentang ketidakpastian. Dalam kegelapan, kita menemukan bagian dari diri kita yang paling jujur: rasa yang hadir tanpa alasan, perasaan yang tak perlu dijelaskan. Gelap memberi ruang bagi hal-hal yang tak bisa dijangkau oleh pikiran. Ia memberi kita hak untuk merasakan tanpa harus mengerti.
Aku membayangkan cahaya itu sebagai sungai yang mengalir di malam hari. Airnya jernih, tapi dingin dan cepat. Ia menembus relung-relung terdalam, membawa sesuatu yang tak bisa kugenggam, namun aku tetap merasakannya. Cahaya, seperti sungai, hadir membawa rasa dan ingatan, tapi tak bisa dimiliki sepenuhnya.
Malam itu juga angin berbisik. Angin membawa aroma hujan yang jatuh jauh di hutan, daun-daun yang basah, tanah yang dingin, dan aroma kenangan yang terlupakan. Angin itu seperti suara batin, memberi isyarat tanpa suara, menjelajahi sudut-sudut pikiran yang tak tersentuh. Aku berdiri diam, membiarkan angin masuk, merasakan setiap gerakan yang tak terlihat. Angin mengajarkanku bahwa ada hal-hal yang hanya bisa dirasakan, bukan dijelaskan.
Aku teringat masa kecilku rumah yang sunyi, jalanan yang lengang, tawa yang tiba-tiba hilang. Semua itu muncul dalam bayangan cahaya malam. Ada kenangan yang kembali, tapi tidak dalam bentuk jelas. Hanya ada sensasi: hangat, dingin, rindu, takut, dan perasaan asing yang tak bisa dinamai. Di sinilah misteri hidup hadir. Dan aku belajar, bahwa hidup bukan tentang memahami, tapi merasakan.
Dalam gelap, aku juga mendengar suara alam yang lain: hujan jauh yang menetes di atap, desiran ombak laut yang tak terdengar di pantai, dan desah pepohonan yang bergoyang di malam sunyi. Semua itu seolah berbicara bahasa yang hanya bisa dimengerti hati. Manusia sering takut pada gelap karena gelap tak bisa dijelaskan. Namun sesungguhnya, gelap adalah sahabat cahaya. Gelap memberi dimensi pada terang. Gelap mengajarkan tentang ruang, tentang kesabaran, dan tentang percaya bahwa ada hal-hal yang lebih besar dari kita.
Aku membiarkan diriku terseret dalam dialog batin antara pikiran dan perasaan. Pikiran ingin memahami: “Apa ini? Mengapa aku merasakan hal ini?” Tetapi perasaan menanggapi dengan lirih: “Tidak semua hal harus dimengerti. Cukup rasakan.”
Ada malam ketika aku membayangkan seluruh hidup manusia sebagai perjalanan dalam hutan yang gelap. Kita berjalan, kadang tersandung, kadang terhenti, kadang kehilangan arah. Cahaya hanya sesekali muncul sebagai bintang, bulan, atau lampu jauh memberi sedikit penerangan. Tapi sebagian besar waktu, kita berjalan dalam ketidakpastian. Dan itulah inti dari hidup: bukan selalu melihat jelas, tapi belajar merasakan jalan, meski tak tahu ke mana kita akan sampai.
Aku juga membayangkan perasaan ini sebagai api kecil yang menyala dalam gua gelap. Api itu hangat, tapi tidak cukup untuk menerangi seluruh gua. Aku bisa duduk di dekatnya, merasakan panasnya, mendengar suara percikannya, tapi tetap ada bagian gua yang tak terlihat. Cahaya dari api itu memberi rasa aman, tapi tetap ada misteri di sekeliling. Seperti itulah cahaya dalam diri kita: ia hadir, memberi rasa, tapi tidak menyingkirkan seluruh gelap.
Cahaya, jika kau hadir, jangan terangi sepenuhnya. Tinggalkan sebagian gelap agar aku masih bisa merasakan misteri, masih bisa berdiri di tepi sungai malam, masih bisa mengalami rasa yang tak memiliki nama. Sebab itu adalah hakikat manusia: makhluk yang belajar merasakan sebelum memahami, yang kadang lebih bijak ketika diam dalam kegelapan.
Aku membiarkan malam membawa aku ke perjalanan yang lebih jauh lagi: ke tepi laut yang sunyi, ke hutan yang lembap, ke pegunungan yang tinggi. Setiap langkah membawa perasaan baru, kenangan baru, dan pertanyaan baru yang tak perlu dijawab. Aku sadar bahwa hidup manusia adalah gabungan cahaya dan gelap, terang dan misteri.
Malam mengajarkan satu hal yang paling penting: hidup bukan tentang memahami segala sesuatu. Hidup adalah tentang merasakan, mengalami, dan belajar berdamai dengan ketidakjelasan. Ada rasa yang hanya bisa hadir, perasaan yang hanya bisa dirasakan, dan kenangan yang hanya bisa dikenang tanpa dimengerti sepenuhnya.
Dan di tengah malam itu, aku berdiri di antara cahaya dan gelap, antara datang dan hilang. Aku membiarkan suara tanpa bunyi masuk, membiarkan perasaan purba hadir, dan membiarkan pikiran menyerah sebelum sempat mengerti. Aku percaya, di situlah keajaiban hidup. Di situlah kita benar-benar hidup: merasakan tanpa memahami, mengalami tanpa menjelaskan, dan tetap percaya bahwa segala sesuatu memiliki tempatnya, meski tak pernah kita lihat sepenuhnya.
Malam ini, aku belajar bahwa hidup adalah cahaya dan gelap, terang dan misteri. Dan yang paling penting: belajar merasakan, bukan memahami. Hidup adalah pengalaman, bukan logika. Perasaan adalah guru, bukan pikiran. Dan misteri adalah sahabat, bukan musuh.
Aku menutup mata dan membiarkan angin, cahaya, dan gelap meresap ke dalam diri. Semua menjadi satu, tanpa batas, tanpa nama. Aku menyadari bahwa di sinilah manusia belajar menjadi manusia sejati: makhluk yang mampu merasakan dunia, tanpa harus mengerti sepenuhnya.
Dan di sana, di ruang antara cahaya dan gelap, aku menemukan kedamaian. Kedamaian yang hanya bisa dirasakan, bukan dijelaskan.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E

Komentar
Posting Komentar