Membongkar Tabir Gelap: Fenomena Praktik Esek-Esek Terselubung di Pacitan
Pacitan - Kota yang selama ini dikenal dengan sebutan “Kota Seribu Satu Goa” dan citra religiusnya, mendadak menjadi pusat perhatian karena mencuatnya isu sosial yang menyentak banyak pihak. Praktik esek-esek terselubung, sebuah bentuk prostitusi digital yang beroperasi secara diam-diam, diduga mulai menjamur dan menyasar segmen yang mengejutkan: perempuan muda pekerja pabrik.
Dalam investigasi lapangan dan pengumpulan informasi dari berbagai sumber, ditemukan bahwa praktik ini difasilitasi melalui salah satu aplikasi perpesanan populer sering disebut “Aplikasi Hijau” yang dalam kondisi normal digunakan untuk komunikasi pribadi. Namun dalam praktik undergroundnya, aplikasi ini berubah fungsi menjadi ruang transaksi seksual yang tertutup dan sulit dideteksi.
Teknologi yang Tak Lagi Netral
Kehadiran teknologi sejatinya memudahkan kehidupan. Tapi dalam kasus ini, justru menjadi alat bantu untuk praktik yang menyimpang dari norma sosial dan hukum. Disamarkan dengan status, kode, dan jaringan pengguna eksklusif, praktik prostitusi online ini menjadi seperti hantu digital tak terlihat, tapi terasa nyata dampaknya.
Pelaku yang terlibat diduga adalah para perempuan muda sebagian besar buruh pabrik yang menjalani hidup dengan tekanan ekonomi tinggi. Gaji minimum yang tak sebanding dengan kebutuhan sehari-hari dan godaan gaya hidup konsumtif menjadi pemicu utama.
Gaji Tak Cukup, Hidup Makin Berat
Upah Minimum Regional (UMR) di Pacitan tergolong rendah. Dengan biaya makan, transportasi, pulsa, dan kebutuhan pribadi yang terus naik, banyak pekerja akhirnya terjebak dalam lingkaran kekurangan. Dalam kondisi ini, munculnya tawaran 'mudah dan cepat' lewat aplikasi digital sangat menggoda. Namun faktor ekonomi bukan satu-satunya. Ada faktor emosional dan psikologis yang lebih dalam.
Bukan Hanya Uang, Tapi Juga Rasa Dianggap
Banyak perempuan muda yang merasa tidak punya ruang untuk didengar dan diterima di lingkungan sosialnya. Mereka lelah menghadapi stigma, tekanan keluarga, dan relasi yang tidak sehat. Maka ketika ada seseorang entah itu pasangan maya, pelanggan, atau kenalan digital yang memberi perhatian dan imbalan, mereka merasa dianggap dan dihargai.
Praktik ini, meski terdengar kelam, juga merupakan bentuk perlawanan sunyi terhadap sistem sosial yang membungkam ekspresi dan kebutuhan manusia secara kompleks.
Suka Sama Suka, Tapi Berdampak Nyata
Sebagian besar pelaku berdalih bahwa apa yang mereka lakukan adalah pilihan pribadi atas dasar suka sama suka. Namun, persoalannya bukan hanya soal kehendak pribadi, tapi juga dampak luas terhadap moralitas publik, keamanan sosial, dan keteladanan generasi.
Pacitan bukan kota metropolitan yang hiruk pikuk. Tapi ketika praktik seperti ini menjamur di kota kecil, maka efeknya akan terasa lebih dalam karena jaringan sosialnya lebih rapat dan pengaruh antarindividu lebih besar.
Di Mana Negara? Di Mana Masyarakat?
Sampai hari ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak perusahaan tempat para karyawati bekerja. Aparat penegak hukum juga masih pasif. Padahal masyarakat butuh kejelasan, bukan hanya karena ingin tahu, tapi karena fenomena ini menimbulkan keresahan kolektif.
Pemerintah daerah dan kepolisian harus segera bertindak tidak hanya dengan pendekatan hukum, tetapi juga dengan pendekatan sosial dan edukatif.
Pendidikan moral, literasi digital, dan penguatan mental anak muda harus menjadi prioritas. Jangan sampai generasi produktif justru terjebak dalam jaringan kenikmatan sesaat yang menghancurkan masa depan mereka sendiri.
Kita Tak Bisa Hanya Menyalahkan
Mengutuk perilaku menyimpang itu mudah. Tapi berani menggali akar masalah dan menawarkan solusi itu yang lebih sulit namun jauh lebih mulia. Kita harus melihat ini bukan hanya sebagai kasus individual, melainkan sebagai sinyal kegagalan kolektif dalam menciptakan sistem yang sehat, adil, dan beradab.
Pacitan bukan tempat asing bagi nilai-nilai kebaikan, religiusitas, dan solidaritas sosial. Namun semua itu akan sirna jika kita membiarkan praktik-praktik seperti ini tumbuh tanpa upaya pemulihan.
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E
Disclaimer : Artikel ini ditulis oleh aktivis sekaligus jurnalis media, yang melalui pengamatan dan juga investigasi sebelum diterbitkan dalam bentuk karya tulis. Namun penulis sendiri tidak menyudutkan ke siapapun hanya ingin memberikan ruang pemikiran yang jernih dalam menanggapi adanya informasi terkait adanya dugaan praktik esek-esek yang kian menjamur di wilayah Kabupaten Pacitan. Maka dari itu dengan ini penulis merasa tergugah untuk memberikan sumbangsih berupa buah pemikiran yang saya tuangkan dalam opini.
Tulisan ini disusun bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, apalagi menghakimi secara sepihak. Artikel ini dimaksudkan sebagai ruang refleksi kolektif terhadap fenomena sosial yang muncul di tengah-tengah kita yang mungkin selama ini hanya dibicarakan secara bisik-bisik, tapi tidak pernah benar-benar ditanggapi secara serius.
Kami menyadari bahwa topik ini sensitif dan dapat menimbulkan reaksi emosional. Namun demikian, justru karena sensitif dan memicu reaksi, maka kita harus berani mengangkatnya ke permukaan. Karena mendiamkan praktik menyimpang hanya akan membuatnya semakin mengakar dan membahayakan lebih banyak orang.
Kami juga ingin menegaskan bahwa dalam setiap praktik yang menyimpang, sering kali ada korban di balik pelaku. Mereka yang dianggap “nakal” bisa jadi adalah hasil dari sistem yang gagal melindungi, mengayomi, dan mendidik mereka dengan cara yang adil dan manusiawi.
Kami mengajak seluruh pembaca untuk tidak berhenti pada kecaman, tapi mulai bergerak sekecil apapun itu. Mulailah dari lingkungan terdekat: keluarga, tempat kerja, komunitas, dan sekolah. Bangun komunikasi yang terbuka, dukung ekonomi lokal, dan perkuat nilai-nilai kebajikan melalui tindakan nyata.
Dan kepada pemerintah serta aparat penegak hukum: jangan tunggu viral untuk bertindak. Jangan tunggu korban berikutnya untuk bergerak. Ini bukan hanya soal prostitusi terselubung. Ini tentang wajah masa depan Pacitan dan martabat generasi mudanya.

Prihatin dengan keadaan tersebut, semoga Pacitan lebih membaik
BalasHapus