Aku Ingat Siapa yang Mencaciku: Sebuah Tamparan untuk Dunia yang Gemar Menghakimi
Pacitan - Dunia ini tidak seindah kata-kata motivasi yang berseliweran di media sosial. Kalimat “sabar ya, kuat ya, semangat ya” hanyalah tempelan manis di atas luka bernanah. Sebab di balik semua itu, ada banyak orang yang pura-pura kuat, pura-pura bahagia, dan pura-pura tidak peduli dengan segala omongan yang menusuk batin mereka. Tapi percayalah, tak ada satu pun hati manusia yang benar-benar kebal terhadap kata-kata.
Kalian pikir, cuma fisik yang bisa berdarah? Kalian salah besar. Luka yang paling menyakitkan justru bukan yang terlihat. Luka itu bernama ucapan manusia lain.
Manusia zaman sekarang terlalu gemar menghakimi. Di dunia nyata mereka berwajah manis, tapi di dunia maya berubah jadi singa lapar yang menunggu mangsa untuk dicabik-cabik. Mereka menyebutnya candaan. Tapi siapa bilang setiap orang menganggap candaan kalian itu lucu? Kalian tidak tahu bagaimana rasanya menjadi korban dari kata-kata kalian sendiri.
Kalian tidak tahu bagaimana rasanya seseorang menangis di kamar, sambil menatap notifikasi komentar yang berisi hinaan, ejekan, dan tawa sinis. Kalian tidak tahu bagaimana rasanya seseorang kehilangan percaya diri, kehilangan harga diri, bahkan kehilangan alasan untuk hidup.
Ya, ucapan bisa membunuh. Dan itu bukan hiperbola. Banyak artis, influencer, bahkan orang biasa yang memilih mengakhiri hidupnya hanya karena tak kuat menanggung beban psikis akibat cacian dan bully-an massal. Lalu kalian bilang: "Ah, mentalnya lemah."
Padahal, siapa yang membuat mentalnya hancur kalau bukan kalian?
Mental Itu Bukan Besi
Tidak semua orang punya benteng mental yang sama. Ada yang bisa tertawa ketika dihina, ada yang langsung remuk meski hanya satu kalimat tajam menembus hati. Tapi yang menyedihkan, masyarakat kita malah menjadikan kekuatan mental sebagai ukuran kehebatan manusia.
“Dia baperan banget sih.”
“Dikit-dikit nangis, lemah banget mentalnya.”
“Kalau mau sukses, jangan gampang tersinggung.”
Kata-kata itu seolah membenarkan bahwa yang kuat boleh menindas yang lemah. Bahwa yang tahan banting berhak menertawakan yang rapuh. Padahal tidak ada manusia yang diciptakan dengan daya tahan yang sama.
Lucunya, orang yang sering bilang “gue cuma bercanda” justru paling tidak bisa menerima lelucon ketika dirinya yang dijadikan bahan. Mereka bisa marah, bisa ngambek, bisa menyerang balik. Tapi ketika giliran mereka yang jadi pelaku, mereka bersembunyi di balik tameng “kan cuma guyon.”
Ironi, bukan?
Roda Hidup Berputar, Kawan!
Hidup ini tidak selamanya kalian di atas. Dulu mungkin kalian yang menertawakan, sekarang kalian yang ditertawakan. Dulu kalian yang mencaci, sekarang kalian yang dicaci. Dan percayalah, semesta punya cara yang sangat rapi untuk mengembalikan semua itu.
Ketika kalian dengan mudahnya melemparkan hinaan, kalian sedang menanam benih karma. Dan benih itu akan tumbuh subur di tanah yang sama tempat kalian berdiri sekarang. Suatu hari nanti, kalian akan tahu rasanya menjadi bahan tertawaan, rasanya kehilangan harga diri karena omongan orang.
Jangan kaget kalau saat itu datang.
Jangan pura-pura lupa siapa yang dulu kalian rendahkan.
Karena aku dan banyak orang lain masih mengingat dengan sangat jelas siapa yang pernah mencaci kami.
Dunia yang Gagal Berempati
Kita hidup di zaman yang terlalu mudah menilai orang lain tanpa mau tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan. Kita hidup di masa di mana likes lebih penting dari empati, dan views lebih diutamakan daripada hati nurani.
Makin pedas komentarmu, makin viral. Makin kejam sindiranmu, makin dianggap keren. Inilah mental dunia yang sedang sakit, tapi tidak mau diobati.
Dan yang paling menyedihkan, banyak orang yang mati bukan karena peluru, tapi karena kalimat.
Kalimat yang lahir dari jemari kalian sendiri.
Kalimat yang kalian ketik tanpa berpikir, tanpa hati, tanpa empati.
Lalu ketika ada yang bunuh diri, kalian menulis:
"Turut berduka cita. Semoga tenang di sana."
Kalian pura-pura berduka, padahal kalianlah yang menggali lubangnya.
Aku Ingat Siapa yang Mencaciku
Kalian boleh pura-pura lupa, tapi aku tidak. Aku ingat siapa yang dulu menertawakan, siapa yang mencibir, siapa yang bilang aku tidak akan berhasil, siapa yang menyebar gosip, siapa yang membuatku merasa tidak pantas untuk hidup.
Tapi tenang saja, aku tidak membalas dengan kebencian. Aku hanya menunggu waktu. Karena aku tahu, roda itu berputar. Ketika giliranku di atas nanti, aku tidak akan menertawakan kalian. Aku hanya akan menatap dengan senyum tipis senyum yang lahir dari luka yang pernah kalian ciptakan.
Dan saat kalian jatuh, kalian akan tahu rasanya berada di posisi orang yang pernah kalian rendahkan.
Tulisan ini bukan sekadar pelampiasan amarah. Ini pengingat keras bagi kalian semua bagi kita semua bahwa tidak ada yang berhak menilai isi kepala dan isi hati orang lain. Karena setiap manusia punya medan perang batinnya masing-masing.
Sebelum kalian berbicara, pikirkan dulu: apakah kata-kata kalian akan menyembuhkan, atau justru membunuh?
Jika kalian masih berpikir bahwa “itu cuma candaan,” maka selamat datang di dunia yang sedang kehilangan rasa kemanusiaan.
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E
Disclaimer : Tulisan ini bersifat opini pribadi dan bukan untuk menyerang individu atau kelompok tertentu. Jika kamu merasa tersinggung, mungkin karena ada bagian dari dirimu yang tersindir oleh kebenaran yang tidak mau kamu akui.







Komentar
Posting Komentar