Dadio Lakon Ojo Dadi Penonton, Saat Hidup Cuma Jadi Bahan Tertawaan dan Rasan-Rasan

Pacitan - Di zaman serba komentar ini, banyak orang ingin terlihat tahu segalanya tapi lupa caranya merasakan. Semua berlomba bicara paling keras, paling benar, paling bijak, tapi lupa turun ke jalan dan ikut berpeluh.

Makanya aku selalu bilang, “Dadio lakon, ojo dadi penonton.”

Karena di dunia ini, yang cuma menonton nggak akan pernah paham getirnya perjuangan. Orang bisa bebas berkomentar, bebas menilai, bebas mencemooh. Tapi ketika disuruh ganti posisi jadi pelaku, semua bungkam.

Sekarang, susah malah dijadikan guyon, dan guyon sering dijadikan bahan hinaan.

Yang kerja keras dibilang sok kuat, yang gagal dibilang bodoh, dan yang jujur dibilang pencitraan. Sementara yang paling enak adalah posisi paling aman: jadi rasan-rasan.

Dari Pena ke Jalanan

Aku dulu cuma jurnalis. 

Menulis kisah perjuangan orang lain dengan kata-kata. Tapi semakin sering menulis, aku merasa cuma seperti penonton di tribun kehidupan. Lihat, catat, dan pulang tanpa ikut berdarah.

Sampai akhirnya aku sadar kalau aku benar-benar ingin paham makna kerja keras, aku harus jadi lakon, bukan cuma penulisnya.

Maka lahirlah Kurir Balap Pacitan, jasa delivery yang aku jalankan sendiri, buka 24 jam di wilayah kota Pacitan, dengan tarif ongkir terjangkau.

Motor tua, jaket lusuh, helm jelek itulah kostum panggungku.

Dan jalanan kota Pacitan yang panas di siang hari serta dingin di tengah malam, itulah teater hidupku.



Penonton Selalu Paling Ramai Bicara

Aku sering ketemu tipe orang yang cuma bisa komentar:

“Lha wartawan kok jadi kurir?”

“Nggak malu apa, Mas?”

Lucu, karena justru mereka yang paling kencang bicara itu biasanya tak pernah berkeringat. Mereka hanya menonton dari layar HP, dari balik kafe ber-AC, dari kursi empuk di kantor, tapi merasa paling paham arti perjuangan.

Mereka ini spesies baru manusia modern: penonton yang merasa sutradara. Mereka nggak ikut main, tapi pengin atur alur cerita hidup orang lain.

Padahal, dunia nggak butuh lebih banyak pengamat. Dunia butuh pelaku orang-orang yang berani kotor, berani gagal, dan berani melawan nasib dengan tangan sendiri.



Hidup Tak Butuh Pencitraan, Butuh Pergerakan

Hari ini semua ingin terlihat keren di media sosial.

Tapi siapa yang masih mau lembur sampai tengah malam demi sesuap nasi?

Siapa yang masih mau menjemput rezeki dengan cara halal, meski penuh risiko dan peluh?

Orang-orang sibuk membangun pencitraan, bukan perjuangan.

Padahal, hidup ini bukan lomba siapa paling tampan di kamera, tapi siapa paling tahan di ujian.

Aku lebih bangga di jalan, mengantar pesanan pelanggan, daripada duduk manis sambil menertawakan kerja keras orang lain.

Karena di balik setiap pesanan yang aku antar, ada amanah yang harus dijaga.

Dan di balik setiap kilometer yang aku tempuh, ada kisah yang tak bisa ditulis dengan teori.


Dari Jalanan Aku Belajar Tentang Martabat

Jadi kurir bukan soal uang semata. Ini soal martabat tentang bagaimana manusia menjaga harga dirinya dengan keringat, bukan dengan menunggu belas kasihan.

Aku lihat banyak orang kini sibuk membicarakan etika kerja, tapi malas bekerja. Sibuk bicara moral, tapi tak mau jujur pada diri sendiri. Sibuk bicara rakyat kecil, tapi jijik kalau harus hidup seperti mereka.

Di jalanan, aku bertemu orang-orang hebat tanpa gelar.

Tukang parkir yang tetap ramah walau dicaci, ibu warung yang rela hutang ke tengkulak demi anaknya, sopir angkot yang tak pernah tahu kapan penumpang terakhir datang.

Mereka tidak punya waktu untuk pencitraan, tapi punya nilai hidup yang tak ternilai.



Jangan Jadi Penonton Hidup Orang Lain

Kamu boleh pintar bicara, boleh jago berdebat, boleh hafal teori ekonomi dan sosial, tapi kalau hidupmu hanya berhenti di kata-kata, kamu tetap penonton.

Sementara aku meski hanya kurir tahu bagaimana rasanya memegang beban di pundak sendiri.

Tahu bagaimana rasanya dikejar waktu, diterpa hujan, dan disindir orang.

Tapi aku juga tahu bagaimana nikmatnya tidur setelah berjuang, bukan setelah menonton perjuangan orang lain.

Lakon Sejati Tak Butuh Sorotan

Aku menulis ini bukan untuk mencari simpati.

Aku cuma ingin bilang: jangan remehkan siapa pun yang sedang berjuang.

Karena orang yang kau pandang rendah hari ini, bisa jadi esok dia lebih kuat dari yang kau bayangkan.

Aku bukan pahlawan, aku cuma orang yang tak mau jadi penonton dalam hidup sendiri.

Karena aku percaya, lakon sejati tidak butuh tepuk tangan cukup butuh keyakinan bahwa langkahnya punya arti.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno S.E


Disclaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi yang lahir dari pengalaman nyata di lapangan. Tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun. Jika terasa menohok, mungkin karena cerminannya terlalu dekat dengan kenyataan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewati Masa Bujangan dengan Penuh Makna

Membongkar Tabir Gelap: Fenomena Praktik Esek-Esek Terselubung di Pacitan

TIARA HILLS HOMESTAY AND CAMPING GROUND