Kedaulatan yang Dijual Murah: Ketika Rupiah Tak Lagi Punya Harga Diri
Nasional - Rupiah kembali babak belur. Dolar Amerika Serikat melesat hingga menyentuh kisaran Rp17 ribuan. Angka yang dulu dianggap mimpi buruk ekonomi, kini perlahan dipaksa menjadi sesuatu yang “normal”. Dan seperti biasa, rakyat diminta tenang. Diminta percaya bahwa semuanya masih terkendali.
Padahal kenyataannya?
Yang tidak terkendali justru harga kebutuhan hidup.
Beras naik. Minyak goreng naik. Barang elektronik naik. Suku cadang naik. Obat-obatan ikut naik. Bahkan secangkir kopi di warung pun diam-diam mulai ikut menyesuaikan keadaan. Sebab ketika dolar naik dan rupiah ambruk, yang paling pertama menjerit bukan pejabat negara. Tapi rakyat kecil yang hidupnya sudah megap-megap bahkan sebelum krisis datang.
Ironisnya, di tengah situasi seperti ini, pidato tentang “ekonomi kuat” masih terus dipertontonkan di panggung-panggung kekuasaan. Statistik dipoles. Angka pertumbuhan dibanggakan. Grafik investasi dipamerkan seolah semuanya baik-baik saja.
Tetapi rakyat tahu satu hal sederhana:
kalau ekonomi benar-benar sehat, kenapa rupiah terus sekarat?
Ini bukan sekadar soal kurs mata uang. Ini soal harga diri bangsa yang perlahan runtuh di hadapan dominasi ekonomi global. Rupiah melemah bukan hanya karena dolar kuat, tetapi karena negara ini terlalu lama dibangun di atas ketergantungan.
Kita impor pangan.
Kita impor bahan baku.
Kita impor teknologi.
Bahkan kadang kebijakan ekonomi pun terasa seperti impor kepentingan asing.
Lalu apa yang tersisa dari kedaulatan?
Negara ini kaya sumber daya, tetapi terlalu miskin keberanian untuk mandiri. Pemerintah sibuk berbicara hilirisasi, tetapi industri nasional masih bergantung pada dolar. Para elite bicara nasionalisme ekonomi, tetapi gaya hidup dan orientasi kekuasaan tetap tunduk pada pasar global.
Dan ketika rupiah jatuh, yang diselamatkan pertama kali selalu pasar. Selalu investor. Selalu stabilitas angka-angka di layar perdagangan. Sedangkan rakyat? Disuruh sabar. Disuruh memahami situasi global. Disuruh mengerti bahwa dunia memang sedang tidak baik-baik saja.
Lucunya, setiap rakyat kecil mengeluh harga naik, mereka disebut tidak memahami ekonomi makro. Seolah penderitaan harus punya gelar akademik dulu agar dianggap sah.
Padahal realitas paling jujur justru ada di dapur rakyat.
Ibu rumah tangga mulai mengurangi belanja. Pedagang kecil mulai kehilangan pembeli. Buruh mulai takut kehilangan pekerjaan. Anak muda makin sulit mengejar mimpi karena biaya hidup bergerak lebih cepat daripada kenaikan penghasilan.
Tetapi elite tetap nyaman.
Mobil mewah tetap melintas.
Proyek mercusuar terus berjalan.
Perjalanan dinas tetap ramai.
Konten pencitraan tetap diproduksi tanpa rasa bersalah.
Di sinilah letak kemarahan publik mulai tumbuh.
Karena rakyat perlahan sadar bahwa krisis selalu punya pola yang sama: keuntungan diprivatisasi untuk kelompok atas, sementara penderitaan dibagi rata kepada masyarakat bawah.
Ketika ekonomi tumbuh, yang kaya makin kaya.
Ketika ekonomi runtuh, rakyat yang diminta berkorban.
Inilah wajah sistem yang selama ini dijaga rapat-rapat oleh oligarki ekonomi dan politik. Sistem yang membuat negara tampak sibuk membangun, tetapi lupa memperkuat pondasi rakyatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, pelemahan rupiah justru membuka tabir betapa rapuhnya ekonomi nasional. Bertahun-tahun bangsa ini dijual dengan narasi bonus demografi, kekuatan pasar domestik, dan optimisme masa depan. Tetapi satu gejolak dolar saja langsung membuat semuanya gemetar.
Artinya apa?
Artinya bangsa ini belum benar-benar kuat. Kita hanya terlihat besar dari luar, tetapi kosong di dalam. Ekonomi Indonesia terlalu bergantung pada arus modal asing. Begitu investor luar panik, rupiah langsung tersungkur.
Dan kita terus mengulang kesalahan yang sama.
Negara terlalu sibuk mengejar investasi, tetapi lupa membangun kemandirian. Terlalu fokus memuaskan pasar, tetapi gagal menciptakan perlindungan nyata untuk rakyat kecil.
Padahal sejarah sudah berkali-kali mengajarkan: bangsa yang tidak mandiri secara ekonomi akan selalu mudah ditekan secara politik.
Dolar hari ini bukan cuma alat transaksi. Ia sudah menjadi simbol kekuasaan global. Dan ketika rupiah melemah terlalu dalam, yang dipertaruhkan bukan hanya ekonomi, tetapi kedaulatan bangsa.
Pertanyaannya sekarang sederhana:
Sampai kapan rakyat harus menjadi tameng kegagalan sistem?
Sampai kapan generasi muda dipaksa hidup di tengah harga yang terus naik sementara kesempatan kerja makin sempit?
Dan sampai kapan pemerintah hanya menjadi pemadam kebakaran ekonomi tanpa pernah berani membongkar akar masalahnya?
Rakyat mulai lelah dengan narasi “situasi global”. Karena alasan itu terdengar seperti kaset rusak yang diputar setiap kali keadaan memburuk.
Sudah waktunya bangsa ini berhenti menjadi penonton dalam permainan ekonomi dunia. Sudah waktunya negara berpihak penuh pada produksi nasional, pertanian lokal, industri rakyat, dan kemandirian energi.
Kalau tidak?
Maka jangan salahkan rakyat bila suatu hari kemarahan sosial berubah menjadi gelombang perlawanan besar. Sebab sejarah membuktikan, krisis ekonomi selalu menjadi pintu masuk lahirnya revolusi.
Dan revolusi tidak pernah datang dengan sopan.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E



Komentar
Posting Komentar