Melukis di Angkasa: Ketika Harapan Diletakkan di Tangan Allah SWT
Ada masa dalam hidup ketika kita merasa begitu lelah menjadi manusia. Hari-hari berjalan seperti biasa, tetapi di dalam dada ada banyak hal yang tak pernah selesai. Ada impian yang belum tercapai, doa yang belum dijawab, dan harapan yang sesekali tampak redup karena kenyataan tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.
Di tengah keadaan seperti itu, saya sering membayangkan diri sedang melukis di angkasa.
Bukan dengan kuas yang terbuat dari bulu atau cat yang dibeli di toko. Kuas itu saya buat dari doa-doa yang hampir saya buang karena merasa tak lagi memiliki kekuatan untuk mengulanginya. Warnanya saya ambil dari senja yang pernah membuat saya diam cukup lama, memandang langit dengan mata yang basah tanpa diketahui siapa pun.
Mungkin terdengar puitis. Namun, bukankah hidup memang sering kali lebih dekat dengan puisi daripada logika? Kita menjalani hari demi hari dengan membawa begitu banyak perasaan yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh kata-kata.
Saya percaya setiap manusia pernah berada di titik di mana dirinya merasa kecil. Merasa doanya tidak didengar. Merasa perjuangannya tak menghasilkan apa-apa. Merasa langkahnya begitu lambat dibandingkan orang lain.
Pada saat-saat seperti itulah, kita sebenarnya sedang belajar melukis di angkasa.
Melukis sesuatu yang tidak bisa disentuh. Menggambar masa depan yang belum terlihat. Menggoreskan harapan di tempat yang seolah-olah tidak memiliki bidang untuk dipijak.
Kadang-kadang goresan itu terlihat indah. Kita penuh semangat, yakin bahwa impian akan segera menjadi kenyataan. Namun, tidak jarang pula lukisan itu menjadi berantakan. Ada angin ragu yang datang tanpa permisi dan membuat keyakinan kita goyah.
"Kamu bisa tidak, ya?"
"Bagaimana kalau gagal?"
"Bagaimana kalau semua usahamu sia-sia?"
Pertanyaan-pertanyaan itu sesekali muncul seperti angin yang tak terlihat, tetapi cukup kuat untuk mengguncang hati.
Belum lagi hujan kesedihan yang kadang datang begitu deras. Kehilangan, kecewa, pengkhianatan, atau kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Semua itu bisa membuat warna-warni dalam lukisan hidup kita perlahan memudar.
Di titik tertentu, kita mungkin mulai berpikir untuk berhenti melukis. Berhenti bermimpi. Berhenti berharap.
Sebab berharap memang tidak selalu mudah. Ada keberanian besar di dalamnya. Karena setiap harapan selalu membawa kemungkinan untuk kecewa.
Namun, ketika saya kembali memandang langit, saya menyadari sesuatu.
Langit tidak pernah marah.
Ia tetap luas, tetap tenang, dan tetap menerima semua yang terjadi di bawahnya. Ia menerima terik matahari, awan gelap, hujan deras, bahkan petir yang menggelegar.
Begitu pula Allah SWT.
Sering kali kita datang kepada-Nya dengan doa yang tidak rapi. Dengan hati yang dipenuhi keluh kesah. Dengan iman yang kadang naik dan turun. Dengan air mata yang bahkan tidak mampu kita ceritakan kepada siapa pun.
Namun, Allah tidak pernah mengusir hamba-Nya yang datang dalam keadaan berantakan.
Allah menerima setiap doa yang dipanjatkan dengan suara lirih. Allah mendengar keluhan yang hanya dipendam di dalam dada. Allah mengetahui luka yang tidak terlihat oleh manusia lain.
Barangkali inilah yang selama ini luput dari pemahaman kita.
Kita terlalu fokus pada hasil lukisannya. Kita ingin semuanya segera menjadi indah, sempurna, dan sesuai dengan keinginan. Padahal, mungkin Allah sedang mengajarkan bahwa yang paling penting bukanlah seberapa indah lukisan itu, melainkan keberanian kita untuk terus melukis.
Keberanian untuk tetap berdoa meskipun belum melihat jawabannya.
Keberanian untuk tetap berharap meskipun keadaan sedang sulit.
Keberanian untuk tetap melangkah meskipun kaki terasa lelah.
Karena sejatinya, hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Hidup adalah perjalanan panjang untuk belajar percaya.
Percaya bahwa tidak ada satu pun doa yang sia-sia.
Percaya bahwa tidak ada air mata yang jatuh tanpa diketahui oleh Allah.
Percaya bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, sedang dicatat oleh-Nya.
Mungkin hari ini kita belum melihat hasil dari semua yang telah diperjuangkan. Mungkin sebagian doa masih menggantung di langit dan belum turun menjadi kenyataan.
Tetapi bukankah seorang hamba memang dituntut untuk berikhtiar dan bertawakal?
Kita melukis, sedangkan Allah yang menentukan kapan lukisan itu akan selesai, warna apa yang perlu ditambah, dan bagian mana yang harus dihapus demi menghadirkan gambaran yang lebih baik.
Terkadang Allah menunda bukan karena tidak mendengar.
Terkadang Allah mengambil bukan karena tidak menyayangi.
Dan terkadang Allah membelokkan jalan kita bukan karena ingin mempersulit, melainkan karena Dia sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui.
Maka, teruslah melukis di angkasa.
Tulislah harapan-harapanmu melalui doa. Warnailah dengan kesabaran. Hiasilah dengan ikhtiar dan keikhlasan.
Jika suatu hari goresan itu kembali patah diterpa keraguan, jangan berhenti.
Jika warnanya memudar karena hujan kesedihan, jangan menyerah.
Karena di atas segala keterbatasan manusia, ada langit yang begitu luas. Dan di atas langit itu, ada Allah SWT yang menjaga setiap asa, mendengar setiap doa, serta mengetahui setiap rahasia hati hamba-Nya.
Pada akhirnya, melukis di angkasa bukanlah tentang menghasilkan karya yang sempurna.
Melukis di angkasa adalah tentang keberanian untuk terus percaya, bahwa harapan yang digores setinggi apa pun tidak pernah benar-benar sendirian.
Sebab ada Allah SWT yang senantiasa menjaga, bahkan ketika kita sendiri hampir kehilangan keyakinan terhadap mimpi-mimpi kita.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E


Komentar
Posting Komentar