Perjamuan Sunyi di Bawah Reruntuhan Langit Kedelapan


Musim gugur belum benar-benar pergi ketika salju pertama turun.

Ia jatuh bukan dari langit, melainkan dari arah utara sungai.

Penduduk Haningrat tidak mempersoalkannya.

Di negeri yang sungainya mengalir menuju hulu dan burung-burung tidur dengan mata terbuka, salju yang jatuh dari tempat yang salah hanyalah satu dari sekian banyak keganjilan yang telah lama mereka terima sebagai hukum kehidupan.

Tetapi bagi Aruna, salju itu membawa pertanda.

Sejak pagi, ia menemukan kelopak-kelopak bunga putih berserakan di tangga Menara Haningrat.

Bunga itu tidak tumbuh di negeri mereka.

Bahkan tidak tumbuh di dunia manusia.

Aruna mengambil salah satunya.

Di tengah kelopak terdapat setitik darah.

Ia menggenggamnya erat.

Dan untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, tangannya gemetar.

Lian Yue tidak datang sore itu.

Tidak pula ketika matahari berubah menjadi warna tembaga.

Aruna menunggu di tangga batu hingga lentera-lentera menara menyala sendiri.

Malam turun.

Lian Yue tetap tidak datang.

Pada malam kedua, Aruna masih menunggu.

Pada malam ketiga, ia mulai memahami bahwa menunggu dan kehilangan mungkin merupakan dua kata yang dilahirkan dari rahim yang sama.

Pada malam keempat, ia menemukan sebuah surat di bawah batu tempat Lian Yue biasanya duduk.

Tidak ada nama.

Tidak ada tanda.

Hanya tiga kalimat.

"Jangan mencari seseorang yang sedang berusaha melupakanmu."

"Jangan percaya kepada bulan ketika ia tampak terlalu dekat."

"Dan jika suatu hari kau mendengar namamu dipanggil dari dalam sungai, jangan menjawab."

Aruna membaca surat itu berkali-kali.

Kemudian ia membakarnya.

Namun api tidak memakan kertas tersebut.

Justru nyala api berubah menjadi biru.

Dari dalam kobaran itu terdengar suara perempuan.

Pelan.

Hampir seperti bisikan.

"Aruna..."

Ia mundur.

Suara itu datang lagi.

"Aruna..."

Kali ini lebih dekat.

Ia hampir menjawab.

Namun ia teringat kalimat terakhir surat itu.

Jangan menjawab.

Aruna menutup telinga.

Tetapi suara itu tidak datang melalui telinganya.

Suara itu datang dari dalam dadanya.

Pada malam kelima, Lian Yue kembali.

Ia berdiri di bawah pohon tua di belakang menara.

Jubah putihnya basah.

Rambutnya terurai.

Wajahnya tampak lebih pucat daripada biasanya.

Aruna berlari menghampirinya.

"Ke mana saja kau?"

Lian Yue tersenyum.

"Aku pergi ke tempat yang tidak mengenal namamu."

"Untuk apa?"

"Untuk memastikan apakah aku masih bisa merindukanmu."

Aruna terdiam.

"Dan?"

Perempuan itu menunduk.

"Aku gagal."

Mereka saling memandang.

Untuk beberapa saat, dunia seakan kehilangan suara.

Tidak ada burung.

Tidak ada angin.

Tidak ada sungai.

Bahkan bulan tampak berhenti bergerak.

Aruna ingin mengatakan bahwa ia merindukannya.

Tetapi kalimat itu terasa terlalu kecil.

Maka ia hanya berkata:

"Aku menunggumu."

Lian Yue menjawab:

"Aku tahu."

"Bagaimana kau tahu?"

"Sebab setiap kali kau menungguku, sebuah bintang jatuh."

Aruna menatap langit.

Tidak ada bintang yang jatuh.

Lian Yue tersenyum tipis.

"Jangan lihat ke atas."

"Kenapa?"

"Karena bintang yang jatuh tidak selalu berada di langit."

Malam itu mereka makan bersama.

Bukan di rumah.

Bukan di kedai.

Melainkan di sebuah paviliun tua yang telah runtuh separuh.

Orang-orang menyebut tempat itu sebagai Perjamuan Langit Kedelapan.

Konon, dahulu para bangsawan Haningrat mengadakan jamuan di sana setiap seratus tahun.

Tetapi sejak seorang putri kerajaan menghilang pada malam pernikahannya, tempat itu ditinggalkan.

Di atas meja batu terdapat dua mangkuk nasi.

Dua cawan teh.

Dan sebuah piring kosong.

Aruna memperhatikan piring itu.

"Untuk siapa?"

Lian Yue menjawab tanpa menoleh.

"Untuk orang ketiga."

"Siapa?"

"Orang yang selalu berada di antara kita."

Aruna mengerutkan kening.

"Aku tidak melihat siapa pun."

"Memang."

"Kalau begitu mengapa menyediakan makanan?"

Lian Yue tersenyum.

"Karena sesuatu tidak harus terlihat untuk menjadi penghalang."

Aruna tidak bertanya lagi.

Mereka makan dalam diam.

Sesekali Lian Yue memandangnya.

Sesekali Aruna mencuri pandang.

Keduanya seolah mengetahui bahwa malam itu terlalu indah untuk menjadi kebetulan.

Dan terlalu sunyi untuk menjadi awal kebahagiaan.

Setelah selesai makan, Lian Yue meletakkan sumpitnya.

"Aruna."

"Ya?"

"Jika suatu hari aku menikah dengan orang lain, apakah kau akan membenciku?"

Pertanyaan itu jatuh seperti pedang ke atas meja.

Aruna tidak menjawab.

Ia memandang wajah Lian Yue lama sekali.

Kemudian berkata:

"Aku tidak tahu."

"Jawaban yang jujur."

"Kalau aku bilang tidak, mungkin aku berbohong."

"Kalau aku bilang aku tidak akan menikah dengan siapa pun?"

"Aku juga tidak akan percaya."

Lian Yue tersenyum.

Ada kesedihan di dalam senyum itu.

"Akhirnya kau belajar mengenalku."

Aruna menggenggam cawan tehnya.

"Siapa sebenarnya kau?"

Lian Yue diam.

"Kenapa kau datang kepadaku?"

Diam.

"Dan kenapa setiap kali aku mencoba mendekatimu, kau justru menjauh?"

Lian Yue memejamkan mata.

"Karena aku tidak datang untuk menjadi milikmu."

"Untuk apa kau datang?"

"Untuk mengingatkanmu."

"Mengingatkan apa?"

Bahunya bergetar kecil.

"Bahwa kita pernah saling mencintai."

Aruna membeku.

"Pernah?"

Lian Yue membuka mata.

"Ya."

"Di mana?"

"Di kehidupan sebelum kehidupan ini."

Aruna tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena manusia terkadang tertawa ketika pikirannya tidak sanggup menerima kesedihan.

"Jadi semua ini sudah pernah terjadi?"

"Belum."

"Kalau begitu bagaimana kau bisa mengingatnya?"

Lian Yue menatapnya.

"Karena hanya aku yang lupa."

Tiba-tiba terdengar suara langkah.

Satu.

Dua.

Tiga.

Dari balik kabut.

Aruna berdiri.

"Siapa?"

Tidak ada jawaban.

Lian Yue justru terlihat ketakutan.

"Matikan lentera."

"Kenapa?"

"Aruna, matikan!"

Ia segera meniup lentera.

Kegelapan menelan paviliun.

Langkah kaki semakin dekat.

Lalu terdengar suara seorang lelaki tua.

"Putri..."

Lian Yue menutup mulutnya.

Aruna menatapnya.

Putri?

Suara itu kembali terdengar.

"Putri Lian Yue, sudah waktunya pulang."

Aruna merasakan darahnya menjadi dingin.

"Lian Yue..."

Perempuan itu menggenggam tangannya.

Untuk pertama kalinya.

Erat.

Sangat erat.

"Jangan bertanya sekarang."

"Aku harus tahu."

"Belum."

"Siapa kau?"

Lian Yue menatapnya dalam kegelapan.

Kemudian berbisik:

"Aku adalah perempuan yang seharusnya tidak pernah kau temui."

Aruna menggenggam tangannya lebih kuat.

"Sayangnya aku sudah bertemu."

Lian Yue hampir menangis.

"Justru itu kesalahannya."

Ketika fajar datang, Lian Yue telah menghilang.

Tidak ada jejak kaki.

Tidak ada jubah.

Tidak ada surat.

Hanya sebuah cincin giok tergeletak di atas meja.

Aruna mengambilnya.

Pada bagian dalam cincin terukir sebuah kalimat kecil:

"Jika kau mencintaiku, jangan datang mencariku."

Aruna membaca kalimat itu.

Kemudian tersenyum getir.

"Kalau begitu..."

Ia memasukkan cincin itu ke sakunya.

"...aku akan melakukan satu-satunya hal yang tidak boleh kulakukan."

Ia pergi mencari Lian Yue.

Di tempat yang jauh dari Haningrat, sebuah kereta hitam bergerak melewati hutan bambu.

Lian Yue duduk sendirian di dalamnya.

Di hadapannya terdapat seorang lelaki berjubah merah.

Lelaki itu tidak menatapnya.

Ia hanya berkata:

"Kau melanggar perjanjian."

"Aku tahu."

"Kau menemui Aruna."

"Ya."

"Kau menyentuh tangannya."

Lian Yue diam.

Lelaki itu tersenyum.

"Berarti kau masih mencintainya."

Lian Yue memandang keluar jendela.

"Jika cinta adalah dosa, maka aku sudah terlalu lama menjadi pendosa."

"Dan kau tahu hukumannya."

Lian Yue memejamkan mata.

"Jangan katakan."

"Pada malam bulan ketujuh"

"Jangan."

"Aruna akan melupakanmu."

Air mata jatuh dari mata Lian Yue.

Tetapi ia tidak menangis.

"Dia boleh melupakanku."

Lelaki itu menoleh.

"Benarkah?"

Lian Yue tersenyum.

Senyum yang begitu tenang hingga terasa lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Yang tidak boleh ia lupakan adalah alasan mengapa ia pernah mencintaiku."

Pada saat yang sama, jauh di Menara Haningrat, kitab tua itu kembali membuka halamannya sendiri.

Tulisan baru muncul perlahan.

"Perempuan itu bukan datang dari utara."

Satu kalimat berikutnya muncul.

"Ia datang dari masa depan."

Kemudian tinta hitam mengalir semakin deras.

"Dan lelaki yang mengejarnya sedang berjalan menuju hari kematiannya sendiri."

Halaman itu berhenti.

Tetapi sebelum kitab tertutup, muncul satu kalimat terakhir:

"Jangan percaya kisah cinta yang berakhir bahagia, sebab beberapa cinta diciptakan bukan untuk memiliki akhir melainkan untuk menjadi alasan seseorang terus hidup."

Di luar menara, Aruna telah memulai perjalanan.

Ia tidak tahu ke mana harus pergi.

Ia hanya mengikuti arah angin.

Dan anehnya

angin malam itu berembus menuju masa lalu.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewati Masa Bujangan dengan Penuh Makna

Membongkar Tabir Gelap: Fenomena Praktik Esek-Esek Terselubung di Pacitan

TIARA HILLS HOMESTAY AND CAMPING GROUND