Perebutan Kursi Ketua KONI Pacitan: Momentum Evaluasi dan Harapan Baru untuk Olahraga Daerah
Pacitan - Akhir-akhir ini jagat media lokal di Pacitan diramaikan oleh isu hangat yaitu adanya perebutan kursi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Pacitan. Sejumlah nama mulai bermunculan sebagai kandidat, dari tokoh olahraga, politisi lokal, hingga profesional di bidang hukum dan media. Isu ini bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi empuk KONI, tapi tentang bagaimana masa depan olahraga Pacitan akan dibentuk oleh pemimpinnya.
Dalam dunia olahraga, khususnya di tingkat daerah, kepemimpinan KONI bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah kunci motor penggerak kemajuan prestasi atlet, pembinaan cabang olahraga (cabor), serta sinergi dengan pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, sudah sepantasnya masyarakat memberikan perhatian penuh pada dinamika ini, bukan dengan kecurigaan, tapi dengan semangat membangun.
Dari informasi yang beredar di internet, beberapa kandidat yang disebut-sebut mencuat ke permukaan diantaranya ada nama-nama lama yang pernah mendaftar sebagai calon ketua KONI Pacitan pada periode lalu, ada juga wajah baru dengan latar belakang profesional. Salah satunya adalah Danur Suprapto, wartawan senior dan pengacara ternama yang sempat mencoba masuk dalam bursa Ketua KONI pada periode sebelumnya, namun terkendala seleksi administratif. Kini, ia kembali muncul sebagai salah satu figur yang digadang-gadang layak memimpin.
Namun demikian, aroma "polemik" atau "perebutan kursi" seolah tak bisa dihindari. Media menyebut adanya manuver-manuver dukungan antar cabor, tarik-menarik kekuatan, hingga dugaan intervensi politik lokal. Hal-hal seperti ini memang biasa terjadi di organisasi semi-pemerintah, tapi penting untuk diingat bahwa KONI bukan arena politik kekuasaan ia adalah rumah besar bagi semua insan olahraga.
Pertanyaannya: apakah perebutan ini membawa dampak positif, atau justru menciptakan polarisasi?
Sebuah kepemimpinan yang ideal di KONI seharusnya tidak dilihat dari siapa yang dekat dengan elite, melainkan siapa yang punya rekam jejak membina olahraga, memiliki jaringan pendanaan yang luas, dan tentu saja kemampuan manajerial. Tak kalah penting yaitu integritas.
Sudah saatnya publik, khususnya insan olahraga Pacitan, menilai para calon bukan karena slogan atau pencitraan, tetapi melalui track record. Apakah mereka pernah menjadi pembina cabor? Apakah mereka pernah terlibat dalam memajukan fasilitas olahraga? Apakah mereka memiliki visi yang realistis dan aplikatif?
Jika KONI hanya menjadi ajang balas jasa politik atau tempat parkir kekuasaan, maka yang dirugikan bukan hanya atlet, tetapi juga generasi muda Pacitan yang punya potensi bersinar di kancah nasional bahkan internasional.
Meski sempat terdengar keras, sesungguhnya dinamika ini bisa dijadikan ajang edukasi publik. Transparansi pemilihan Ketua KONI harus menjadi agenda utama. Mulai dari tahap pendaftaran, seleksi administrasi, hingga pemilihan dan pelantikan, semua harus bisa diakses publik. Forum-forum diskusi terbuka, debat visi-misi antar calon, dan pelibatan media akan memperkuat legitimasi pemimpin terpilih.
Pemerintah daerah, dalam hal ini Bupati dan Dinas Pemuda dan Olahraga, punya peran strategis sebagai pengarah, bukan intervensi. Cabor-cabor pun harus menyuarakan kepentingan pembinaan atlet, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.
Kita semua tentu ingin melihat olahraga Pacitan kembali menorehkan prestasi. Kita ingin melihat stadion dan GOR ramai latihan, anak-anak desa mendapatkan pelatihan, dan nama Pacitan berkibar lewat medali emas. Untuk itu, kita butuh pemimpin KONI yang bukan hanya pandai lobi, tapi juga turun ke lapangan. Yang bisa merangkul semua cabor, bukan hanya yang dianggap loyal. Yang mampu membawa sponsor, bukan hanya mengandalkan APBD.
Siapapun yang terpilih nanti, kita berharap prosesnya sehat, hasilnya legitimate, dan tujuannya satu: kemajuan olahraga Pacitan.
Polemik itu biasa. Tapi jangan sampai kita terjebak dalam konflik tanpa solusi. Mari ubah isu "perebutan kursi ketua KONI Pacitan" menjadi kompetisi gagasan. Mari dorong para kandidat untuk bicara tentang program, bukan sekadar pengaruh. Karena olahraga bukan soal politik, tapi tentang kerja keras, disiplin, dan semangat persaudaraan.
Semoga KONI Pacitan ke depan menjadi rumah yang lebih inklusif, produktif, dan benar-benar mencetak prestasi.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno S.E
Disclaimer : Artikel ini ditulis oleh aktivis sekaligus jurnalis media, yang melalui pengamatan dan juga investigasi sebelum diterbitkan dalam bentuk karya tulis. Namun penulis sendiri tidak menyudutkan ke siapapun hanya ingin memberikan ruang pemikiran yang jernih dalam menanggapi adanya informasi terkait isu perebutan ketua KONI Pacitan.
Tulisan ini disusun sebagai bentuk kepedulian penulis terhadap dinamika kepemimpinan dalam dunia olahraga, khususnya di Kabupaten Pacitan. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan pihak manapun, melainkan sebagai refleksi kritis dan konstruktif terhadap proses demokratisasi dalam pemilihan Ketua KONI.
Opini yang disampaikan merupakan pandangan pribadi penulis berdasarkan informasi yang beredar di ruang publik dan media daring. Penulis menjunjung tinggi prinsip netralitas, sportivitas, serta mendorong semua pihak untuk tetap menjaga semangat persatuan, demi kemajuan olahraga Pacitan yang lebih baik di masa depan.


Komentar
Posting Komentar