Ekspedisi Merah Putih 70-Mile Sea Paradise: Membawa Pacitan ke Panggung Dunia

Nasional - Pacitan merupakan sebuah kabupaten di ujung barat daya Jawa Timur, kini kembali menunjukkan jati dirinya sebagai daerah yang kaya akan potensi bahari. Tidak hanya dikenal dengan deretan pantainya yang memesona, kini Pacitan berani melangkah lebih jauh dengan meluncurkan sebuah gerakan monumental: Ekspedisi Merah Putih 70-Mile Sea Paradise.

Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya nyata untuk meneguhkan posisi Pacitan sebagai destinasi wisata kelas dunia. Dengan penelusuran 70 pantai sepanjang 70 mil laut, Pacitan ingin menunjukkan kepada bangsa bahkan dunia bahwa mereka memiliki sesuatu yang berharga, bukan hanya untuk warga lokal, tetapi juga untuk Indonesia dan masyarakat global.



Semangat Persatuan dalam Ekspedisi

Dimulai pada 19-21 Agustus 2025, ekspedisi ini melibatkan dua tim inti, yaitu Tim Barat dan Tim Timur, yang masing-masing berangkat dari ujung garis pantai berbeda: Pantai Nyawiji di Donorojo dan Pantai Tirisan di Sudimoro. Kedua tim beranggotakan 40 personil inti yang berjalan kaki menelusuri pesisir, melewati 7 kecamatan, 23 desa, dan 48 dusun.

Mereka menancapkan bendera merah putih di setiap titik pantai sebuah simbolisasi sederhana, namun sarat makna tentang cinta tanah air. Bahkan, lebih dari 7000 bendera dikibarkan di sepanjang jalur, menciptakan pemandangan yang menggetarkan jiwa.

Di setiap dusun yang dilalui, masyarakat setempat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari perjalanan. Tim Inti disambut dengan iringan Tim Dusun dan warga yang membawa bendera Merah Putih. Interaksi ini menumbuhkan rasa kebersamaan, gotong royong, dan kebanggaan kolektif.



Menghidupkan Pantai dengan Seni dan Kreativitas

Ekspedisi ini semakin semarak dengan rangkaian lebih dari 35 event masyarakat, mulai dari olahraga, seni budaya, hingga ekonomi kreatif. Misalnya, Trail Run Nyaman Jiwo sejauh 38,4 KM dari Pantai Nyawiji menuju Pantai Pancer Dorr, Pacitan Kreatif Fest, kompetisi surfing di Hidden Point, festival dayung di Pantai Ngiroboyo, hingga pagelaran reog di Pantai Piser.

Tidak hanya itu, pantai-pantai Pacitan yang biasanya sunyi akan dipenuhi semarak kegiatan seperti konvoi ATV di Pantai Klayar, zumba di Pantai Pancer, penanaman cemara udang di Pantai Tirisan, rock fishing di Pantai Congot Ndaki, Kunir, dan Ngambur, hingga festival rock balancing di Pantai Pidakan.

Rangkaian acara ini bukan hanya hiburan, melainkan juga sebuah ajang untuk menghidupkan denyut ekonomi kreatif masyarakat lokal. UMKM dilibatkan, seniman diberi panggung, dan wisatawan diberi alasan untuk datang lebih lama menikmati keindahan Pacitan.



Puncak Perayaan di Pantai Pancer Dorr

Setelah menempuh perjalanan panjang, kedua tim akhirnya akan bertemu di Pantai Pancer Dorr. Di titik inilah semua energi, semangat, dan perjuangan tiga hari ekspedisi berpadu dalam sebuah upacara penyambutan.

Puncaknya, seluruh Tim Inti akan mendapatkan pin Wing Ekspedisi Merah Putih, sebuah penghargaan simbolis bahwa mereka telah menuntaskan perjalanan sejarah ini. Lebih istimewa lagi, Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono dijadwalkan ikut serta dalam susur jalur pada 21 Agustus 2025, menambah bobot simbolik bahwa ekspedisi ini mendapat perhatian serius di tingkat nasional.



Lebih dari Sekadar Ekspedisi

Ekspedisi Merah Putih ini memiliki tujuan besar:

1. Pemetaan potensi pesisir Pacitan yang selama ini masih tersembunyi.

2. Menumbuhkan jiwa nasionalisme lewat penancapan bendera.

3. Mempromosikan Pacitan sebagai destinasi wisata kelas dunia.

4. Menguatkan sinergi lintas sektor antara pemerintah, TNI/Polri, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan media.

5. Meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pariwisata dan UMKM.

6. Mendorong pelestarian lingkungan pesisir agar wisata berkelanjutan bisa terwujud.

Tidak berhenti di situ, kegiatan ini juga menjadi panggung peluncuran branding baru: “Pacitan 70-Mile Sea Paradise”. Branding ini tidak hanya sekadar slogan, tetapi juga visi besar untuk memperkenalkan Pacitan sebagai ikon wisata bahari global.



Momentum Menuju Dunia

Sebagai seorang pemerhati sosial dan budaya, saya melihat Ekspedisi Merah Putih ini sebagai momentum yang sangat penting. Pacitan sering dianggap sebagai “mutiara tersembunyi” di selatan Jawa, namun mutiara ini tidak akan berkilau jika tidak dipoles dan diperkenalkan kepada dunia.

Dengan strategi seperti ini, Pacitan tidak hanya mengandalkan alam semata, tetapi juga membangun narasi besar: bahwa mereka siap tampil di panggung dunia dengan identitas bahari, budaya, dan semangat gotong royong.

Namun, tentu saja, pekerjaan tidak selesai hanya dengan ekspedisi ini. Tantangan berikutnya adalah konsistensi pengelolaan, peningkatan infrastruktur, dan komitmen menjaga kelestarian lingkungan. Jangan sampai branding besar ini hanya berakhir sebagai slogan tanpa keberlanjutan.

Saya percaya, jika semangat ini dijaga, maka kelak kita akan melihat Pacitan bukan hanya sebagai destinasi surfing kelas dunia, tetapi juga sebagai ikon pariwisata bahari Indonesia yang benar-benar hidup dari laut, budaya, dan masyarakatnya.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E


Disclaimer : Artikel ini ditulis oleh aktivis sekaligus jurnalis media, yang melalui pengamatan dan juga investigasi sebelum diterbitkan dalam bentuk karya tulis. Namun penulis sendiri tidak menyudutkan ke siapapun hanya ingin memberikan ruang pemikiran yang jernih sebagai bentuk apresiasi penulis terhadap kegiatan Ekspedisi Merah Putih 70-Mile Sea Paradise yang di selenggarakan di Pacitan pada tahun 2025 dalam momentum yang tepat yaitu di Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80. Maka dari itu dengan ini penulis merasa tergugah untuk memberikan sumbangsih berupa buah pemikiran yang saya tuangkan dalam opini. 

Tulisan ini disusun sebagai bentuk apresiasi, refleksi, dan pandangan penulis terhadap kegiatan Ekspedisi Merah Putih 70-Mile Sea Paradise di Pacitan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran positif mengenai potensi bahari, budaya, serta semangat kebersamaan masyarakat Pacitan dalam mengangkat identitas daerahnya ke tingkat nasional maupun internasional.

Seluruh opini, analisis, dan interpretasi dalam artikel ini bersifat subjektif dari sudut pandang penulis, dengan harapan mampu memberi inspirasi, motivasi, sekaligus edukasi kepada pembaca mengenai arti penting sinergi, gotong royong, dan pelestarian lingkungan dalam pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.

Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai rilis resmi dari penyelenggara atau pihak pemerintah daerah, melainkan lebih sebagai bentuk partisipasi moral dan intelektual dalam mendukung promosi pariwisata Pacitan. Informasi yang disampaikan bersumber dari data yang tersedia saat penulisan, serta dapat mengalami perubahan sesuai perkembangan dan klarifikasi resmi dari pihak berwenang.

Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kesalahpahaman, penafsiran berbeda, ataupun konsekuensi lain yang mungkin timbul akibat penggunaan informasi dalam artikel ini di luar konteks reflektif dan informatif. Namun demikian, penulis menegaskan bahwa semangat utama dari artikel ini adalah untuk memberikan dorongan positif kepada masyarakat, pemerintah, dan semua pemangku kepentingan agar terus menjaga konsistensi, kualitas, serta keberlanjutan program wisata bahari di Pacitan.

Tulisan ini diharapkan menjadi sarana apresiasi dan motivasi agar branding “Pacitan 70-Mile Sea Paradise” tidak hanya menjadi slogan, tetapi juga menjadi visi bersama untuk membawa Pacitan sebagai ikon wisata bahari Indonesia yang ramah, inklusif, kreatif, dan mendunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewati Masa Bujangan dengan Penuh Makna

Membongkar Tabir Gelap: Fenomena Praktik Esek-Esek Terselubung di Pacitan

TIARA HILLS HOMESTAY AND CAMPING GROUND