Euforia 80 Tahun Merdeka: Rakyat Menari di Jalan, Negara Terjebak dalam Luka yang Sama!
Nasional - Hiruk pikuk perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 akhirnya perlahan usai. Dari lomba panjat pinang, jalan sehat, karnaval budaya, hingga pesta rakyat di berbagai desa, semua memberi warna semarak yang membangunkan euforia sesaat. Namun, mari jujur sejenak: setelah bendera-bendera plastik dilepas dari pinggir jalan, setelah gapura hiasan diruntuhkan, apa yang sebenarnya tersisa bagi rakyat?
Apakah benar kita merdeka sepenuhnya, atau hanya sekadar meninabobokan diri di balik parade merah putih setiap bulan Agustus?
Rakyat Bersuara, Jalanan Jadi Panggung
Belakangan ini kita menyaksikan betapa jalan-jalan kota bukan hanya jadi arena karnaval, tapi juga arena protes. Demo mahasiswa, aksi buruh, petani yang menggugat tanahnya, sopir ojek online menuntut keadilan, hingga gelombang massa menolak kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat kecil. Semua ini membuktikan satu hal: euforia kemerdekaan hanyalah pesta tahunan, sementara masalah bangsa tetap menumpuk tanpa penyelesaian.
Lucunya, pemerintah sering kali hanya sibuk pada pencitraan. Ketika rakyat bersuara, jawabannya represi. Ketika rakyat lapar, jawabannya subsidi yang dipotong. Ketika rakyat menuntut keadilan, jawabannya kriminalisasi. Maka, apa arti 80 tahun merdeka bila rakyat masih takut bersuara?
Kemerdekaan yang Cacat di Usia Senja
Delapan dekade Indonesia merdeka seharusnya jadi momentum untuk merayakan kedewasaan bangsa. Namun kenyataannya, kita masih terus berputar pada lingkaran yang sama: korupsi yang tiada henti, oligarki yang semakin rakus, demokrasi yang pincang, serta hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas.
Apa gunanya merdeka bila masih ada rakyat yang mati di depan pabrik karena menuntut upah layak? Apa gunanya bendera dikibarkan setinggi langit bila tanah dan tambang dijual murah pada asing? Apa gunanya kita meneriakkan "Merdeka!" bila rakyat tetap dicekik oleh harga kebutuhan pokok dan pajak yang mencekik?
Ironi Perayaan, Luka yang Tak Pernah Sembuh
Peringatan HUT RI ke-80 hanyalah puncak ironi. Di satu sisi, kita menari, bernyanyi, dan tertawa di jalanan dengan wajah dicat merah putih. Namun di sisi lain, negeri ini tengah dirundung luka yang dalam: pengangguran tinggi, pendidikan yang makin mahal, tenaga kerja migran yang diperlakukan seperti budak di negeri orang, hingga anak-anak bangsa yang masih gizi buruk.
Kita seperti keluarga miskin yang rela menggelar pesta ulang tahun besar-besaran, padahal dapurnya kosong dan hutangnya menumpuk. Kita menutupi krisis dengan gegap gempita, menutupi luka dengan bendera plastik, menutupi penderitaan dengan lomba makan kerupuk.
Saatnya Jujur: Merdeka Itu Belum Selesai!
Kita perlu berani mengatakan yang selama ini ditakuti banyak orang: Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Merdeka bukan sekadar mengusir penjajah berseragam asing, tapi juga membebaskan rakyat dari ketidakadilan, dari kemiskinan, dari kebohongan elite, dari dominasi modal, dan dari kebijakan yang menindas.
Merdeka berarti rakyat bisa hidup layak tanpa harus menjerit di jalan. Merdeka berarti hukum benar-benar adil, bukan hanya alat kekuasaan. Merdeka berarti rakyat kecil tidak lagi diperas, baik oleh asing maupun oleh bangsanya sendiri.
Tapi sampai hari ini, 80 tahun merdeka, semua itu masih utopia. Kita masih jauh dari cita-cita proklamasi.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E
Disclaimer : Artikel ini ditulis oleh aktivis sekaligus jurnalis media, yang melalui pengamatan dan juga investigasi sebelum diterbitkan dalam bentuk karya tulis. Namun penulis sendiri tidak menyudutkan ke siapapun hanya ingin memberikan ruang pemikiran yang jernih sebagai bentuk kepedulian penulis terhadap keadaan yang memilukan saat ini terkait Euforia semarak kemerdekaan RI yang ke-80 yang notabennya saat ini kondisi negara masih carut marut, kata tentang merdeka itu semua tinggal sebuah nama dan sebutan saja. Maka dari itu dengan ini penulis merasa tergugah untuk memberikan sumbangsih berupa buah pemikiran yang saya tuangkan dalam opini.
Tulisan ini bukanlah ajakan untuk membenci negara atau melecehkan perayaan kemerdekaan. Sebaliknya, ini adalah refleksi kritis bahwa cinta tanah air tidak boleh berhenti pada seremonial tahunan. Nasionalisme sejati bukan sekadar mengecat wajah merah putih saat Agustusan, tapi berani mengkritik ketika negara berjalan salah arah.
Opini ini bertujuan untuk membuka mata kita bersama bahwa kemerdekaan adalah proses panjang yang belum selesai. Tidak cukup puas dengan merdeka dari penjajahan fisik, kita harus berjuang melawan penjajahan gaya baru: korupsi, ketidakadilan, kesenjangan ekonomi, dan represi suara rakyat.
Bila kritik dianggap dosa, maka demokrasi telah mati. Bila refleksi dianggap pengkhianatan, maka nasionalisme telah berubah jadi fanatisme buta. Tulisan ini ingin mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan perjuangan abadi.


Komentar
Posting Komentar