Pacitan Adem Ayem Tentrem, Tapi Untuk Siapa?
Atau jangan-jangan, yang benar-benar adem hanyalah para pejabatnya, sementara rakyat dipaksa bertahan dalam keadaan yang makin sesak?
Hari-hari ini cuaca terasa panas menyengat. Tetapi panas yang sebenarnya bukan hanya datang dari terik matahari. Panas itu datang dari kehidupan yang makin berat dijalani masyarakat kecil. Harga kebutuhan pokok perlahan naik, biaya hidup terasa menekan, pekerjaan makin sulit, sementara nilai rupiah terus melemah di hadapan dollar.
Ironisnya, di tengah kondisi seperti itu, masyarakat justru mendengar pidato yang mengatakan bahwa dollar tidak berpengaruh bagi orang desa. Pernyataan itu mungkin dimaksudkan untuk menenangkan. Namun bagi sebagian rakyat kecil, ucapan itu justru terasa seperti tamparan halus yang menyakitkan.
Karena faktanya, orang desa memang tidak memegang dollar, tetapi mereka merasakan dampaknya setiap hari.
Petani membeli pupuk dengan harga yang tidak murah. Nelayan mengeluhkan biaya operasional yang naik. Pedagang kecil harus memutar otak karena daya beli masyarakat melemah. Harga barang ikut bergerak naik sedikit demi sedikit. Semua itu terjadi karena ekonomi saling terhubung, bahkan sampai ke pelosok desa.
Maka ketika realitas rakyat bertolak belakang dengan narasi yang disampaikan penguasa, wajar bila masyarakat mulai kehilangan rasa percaya.
Saya kemudian teringat satu falsafah Jawa yang sering diucapkan: mikul duwur mendem jero. Sebuah ajaran luhur untuk menghormati dan menjaga martabat. Tetapi kadang saya merasa, falsafah itu mulai bergeser makna. Yang seharusnya menjadi budaya menghormati, perlahan berubah menjadi budaya menutupi masalah.
Rakyat diminta diam demi menjaga citra. Kritik dianggap mengganggu ketentraman. Padahal suara rakyat lahir bukan karena benci, melainkan karena kecewa.
Lalu saya mulai bertanya lebih jauh: apakah ini tanda-tanda kebangkitan Neo Orba?
Saya tahu pertanyaan ini mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang. Namun keresahan itu nyata dirasakan masyarakat. Ketika kritik sosial mulai dianggap ancaman, ketika pencitraan lebih diprioritaskan daripada penyelesaian masalah, ketika slogan dipoles sedemikian rupa sementara rakyat diminta memahami keadaan terus-menerus di situlah kekhawatiran itu muncul.
Kita tentu tidak ingin kembali pada masa ketika rakyat hanya diminta tenang, diam, dan menerima semua keadaan tanpa ruang bertanya.
Sebab negara atau daerah yang benar-benar tentram bukanlah tempat yang sunyi dari kritik. Ketentraman sejati justru lahir ketika pemerintah mampu mendengar keluhan rakyat tanpa alergi terhadap perbedaan suara.
Hari ini masyarakat tidak sedang meminta kemewahan. Rakyat hanya ingin hidup yang layak. Harga kebutuhan stabil. Pekerjaan tersedia. Suara mereka dihargai. Dan yang paling penting, mereka ingin diperlakukan sebagai manusia yang benar-benar dipahami penderitaannya.
Karena sejatinya, slogan tidak akan pernah cukup mengenyangkan perut rakyat.
“Adem ayem tentrem” tidak boleh berhenti menjadi pajangan kata-kata. Ia harus hadir dalam kehidupan nyata masyarakat. Jika tidak, maka slogan itu hanya akan menjadi kalimat indah yang terdengar manis di atas panggung, tetapi hambar ketika sampai di dapur rakyat kecil.
Dan mungkin benar, hari ini yang paling adem ayem hanyalah kursi kekuasaan. Sedangkan rakyatnya masih sibuk memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup esok hari.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E


Komentar
Posting Komentar