Di Antara Doa yang Tidak Dijawab dan Harapan yang Belum Padam
Setelah malam itu, aku tidak lagi mengirim banyak pesan.
Bukan karena aku telah berhenti menyayanginya.
Bukan pula karena aku tiba-tiba pandai melupakan.
Aku hanya sedang belajar menerima bahwa ada saatnya cinta harus duduk diam dan tidak mengetuk pintu yang sudah ditutup oleh pemiliknya.
Hari-hari kembali berjalan seperti semula.
Pagi datang dengan cahaya yang sama.
Senja kembali turun dengan warna yang serupa.
Orang-orang lalu-lalang seperti biasanya.
Namun ada sesuatu di dalam diriku yang telah berubah.
Aku menjadi seorang pengembara yang membawa satu nama di dalam ingatan dan satu pertanyaan di dalam hati.
Sesekali aku masih membuka jendela percakapan kami.
Kubaca kembali kata demi kata yang pernah kami tulis.
Ada sapaan yang dulu membuatku tersenyum.
Ada candaan kecil yang dahulu terasa begitu hangat.
Dan ada beberapa kalimat mesra yang kini berubah menjadi peninggalan masa lalu.
Aneh sekali.
Tulisan yang sama, ketika dibaca pada waktu yang berbeda, dapat melahirkan perasaan yang berbeda pula.
Dulu, ia adalah sumber kebahagiaan.
Kini, ia menjelma menjadi museum kenangan.
Pada suatu malam yang sunyi, aku duduk seorang diri.
Langit dipenuhi bintang.
Angin bertiup perlahan.
Aku memandang jauh ke arah gelap yang tak berujung.
Tiba-tiba aku teringat sebuah ajaran tua yang pernah dibaca dalam kitab-kitab para bijaksana:
"Tidak semua doa dijawab dengan pemberian. Sebagian dijawab dengan penundaan, dan sebagian lagi dijawab dengan petunjuk agar kita berjalan ke arah yang berbeda."
Aku terdiam.
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk meminta agar dia kembali, hingga lupa bertanya kepada diriku sendiri:
Apakah dia memang ditakdirkan untukku?
Ataukah aku hanya mencintai sebuah kemungkinan yang pernah singgah sebentar di dalam hidupku?
Aku tidak mempunyai jawaban.
Manusia memang pandai menyusun rencana.
Namun tentang pertemuan dan perpisahan, ada tangan lain yang bekerja di balik semuanya.
Aku kemudian menyadari sesuatu.
Selama bertahun-tahun aku menyimpan bayangan tentang dirinya.
Bayangan itu tumbuh menjadi harapan.
Harapan itu berubah menjadi keyakinan.
Dan keyakinan itu perlahan menjelma menjadi penantian.
Barangkali aku tidak hanya mencintai dirinya.
Aku juga mencintai cerita yang kubangun sendiri di dalam kepalaku.
Cerita tentang suatu hari kami akan dipertemukan kembali.
Cerita tentang suatu hari kami akan saling memilih.
Cerita tentang suatu hari segala penantian akan berakhir indah.
Padahal kehidupan tidak selalu berjalan sebagaimana kisah yang ditulis oleh harapan.
Malam semakin larut.
Seekor burung malam terdengar bersahutan dari kejauhan.
Aku mengangkat kepala dan memandang bulan.
Pada saat itulah aku mengerti satu hal yang selama ini tidak kusadari.
Sesungguhnya, keajaiban terbesar bukanlah ketika aku dipertemukan kembali dengannya.
Keajaiban terbesar adalah kenyataan bahwa aku masih mampu mencintai dengan tulus setelah bertahun-tahun dipisahkan oleh waktu.
Betapa banyak manusia yang kehilangan kemampuannya untuk mencintai karena pernah kecewa.
Betapa banyak manusia yang menutup pintu hatinya karena pernah ditinggalkan.
Namun aku masih mampu menyimpan perasaan yang baik.
Aku masih mampu mendoakan kebahagiaannya.
Aku masih mampu berharap agar hidupnya dipenuhi hal-hal yang indah.
Bukankah itu juga sebuah anugerah?
Aku tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak ia berkata bahwa dirinya telah bersama yang lain, aku tidak merasakan marah.
Aku tidak merasakan kecewa.
Aku hanya merasakan sebuah ketenangan yang aneh.
Barangkali beginilah bentuk kedewasaan yang sesungguhnya.
Kita tetap menyayangi seseorang tanpa harus memaksanya tinggal.
Kita tetap mendoakan seseorang meskipun doanya tidak lagi berisi permintaan agar ia kembali.
Aku menengadah ke langit.
Bintang-bintang masih setia berada di sana.
Aku pun berbisik pelan kepada diriku sendiri:
"Wahai hati, jangan engkau tergesa-gesa menutup kitab ini. Sang Pemilik Waktu belum menunjukkan halaman terakhir. Mungkin namanya akan kembali tertulis pada lembar berikutnya. Mungkin tidak. Namun apa pun yang terjadi, jangan biarkan kehilangan satu bunga membuatmu lupa bahwa taman kehidupan masih sangat luas."
Malam itu aku pulang dengan langkah yang perlahan.
Masih membawa kenangan.
Masih menyimpan rasa.
Namun tidak lagi membawa tuntutan agar semesta memihak kepadaku.
Aku berjalan seperti seorang pengembara kuno yang akhirnya mengerti bahwa cinta bukan selalu tentang memiliki.
Kadang-kadang, cinta hanyalah tentang pernah dipertemukan, pernah saling menyapa, lalu berjalan kembali ke arah masing-masing sambil membawa pelajaran yang berbeda.
Dan di balik gelapnya malam, aku merasa seolah Sang Pemilik Waktu sedang berbisik:
"Jangan takut kepada perpisahan, sebab sering kali akhir dari satu cerita hanyalah pintu bagi kisah yang belum pernah engkau bayangkan sebelumnya".***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E


Komentar
Posting Komentar