Riwayat Angin yang Tersesat di Balik Kelopak Batu

Konon, jauh sebelum laut mengenal pasang dan gunung mengetahui arti kesunyian, berdirilah sebuah negeri tanpa nama di tepian timur cakrawala. Negeri itu tidak tercatat dalam peta mana pun, sebab orang-orang menyebutnya hanya dengan isyarat: tiga ketukan pada pintu kayu dan sehelai daun yang dibiarkan hanyut di sungai.

Di sanalah hidup seorang lelaki bernama Aruna, meskipun nama itu bukanlah nama sesungguhnya. Orang-orang tua mengatakan bahwa ia lahir pada malam ketika tujuh burung gagak terbang melawan arah rembulan, pertanda bahwa hidupnya akan dipenuhi jalan-jalan yang tidak menuju mana pun.

Aruna bekerja sebagai penjaga lentera di Menara Haningrat, sebuah bangunan tua yang puncaknya tertutup kabut sepanjang musim. Setiap senja, ia menyalakan seratus dua belas pelita dengan minyak yang diracik dari bunga-bunga yang tidak pernah mekar.

Namun, sesungguhnya ia tidak menjaga cahaya.

Ia menjaga kenangan.

Pada musim gugur yang keempat belas setelah kematian ayahnya, seorang perempuan datang dari utara. Tak seorang pun mengetahui dari mana asalnya. Ia mengenakan jubah putih yang bagian ujungnya selalu basah, seolah baru saja berjalan menembus hujan yang tidak terlihat oleh manusia.

Perempuan itu dipanggil Lian Yue.

Tetapi para pengembara yang pernah melihatnya di kota lain bersumpah bahwa namanya berubah-ubah mengikuti arah angin.

Pertemuan pertama mereka berlangsung begitu ganjil.

Di halaman belakang menara, Aruna menemukan perempuan itu sedang berbicara dengan seekor bangau tua.

"Apa yang kau bicarakan?" tanya Aruna.

Perempuan itu tersenyum.

"Aku sedang menanyakan mengapa manusia lebih mudah kehilangan perasaan dibandingkan kehilangan ingatan."

Aruna tidak menjawab. Sebab pertanyaan itu terdengar seperti teka-teki yang bahkan langit enggan memikirkannya.

Sejak hari itu, Lian Yue sering datang saat matahari tenggelam. Mereka duduk di tangga batu, memandangi sungai yang mengalir ke arah hulu sesuatu yang dianggap biasa oleh penduduk negeri tersebut, meski tidak masuk akal bagi siapa pun yang datang dari luar.

Mereka tidak pernah membicarakan cinta.

Mereka membicarakan hal-hal yang lebih asing.

Tentang daun-daun yang konon menyimpan suara orang mati.

Tentang bulan yang setiap tiga puluh tahun sekali turun ke bumi untuk mencari bayangannya yang hilang.

Tentang seorang kaisar tua yang membangun istana dari cermin agar dapat melihat wajah perempuan yang tidak pernah berhasil ia nikahi.

Dan, diam-diam, tanpa mereka sadari, perasaan tumbuh seperti lumut di sela bebatuan: pelan, lembap, dan nyaris tak terlihat.

Namun, cinta mereka menyimpan suatu kutukan yang tak seorang pun mengerti.

Di perpustakaan Menara Haningrat tersimpan sebuah kitab tua tanpa judul. Halamannya kosong bagi semua orang, kecuali bagi Aruna dan Lian Yue.

Pada suatu malam, ketika badai memecah langit menjadi dua bagian, tulisan-tulisan itu muncul dengan sendirinya:

"Dua hati yang dipertemukan oleh takdir akan saling mengenali, tetapi tidak selalu diperkenankan untuk tinggal di musim yang sama."

Aruna menatap perempuan itu.

"Apakah ini ramalan?"

Lian Yue menggeleng perlahan.

"Bukan. Ini hukuman."

"Hukuman untuk siapa?"

Perempuan itu tidak menjawab.

Ia hanya memandang bulan yang menggantung pucat di atas menara, seolah-olah di sana tersimpan sebuah rahasia yang terlalu berat untuk diucapkan.

Dan untuk pertama kalinya, Aruna menyadari sesuatu yang aneh.

Setiap kali Lian Yue tersenyum, bayangannya selalu terlambat mengikuti.

Malam semakin larut.

Di kejauhan, lonceng kuil berdentang sebanyak tujuh kali, padahal malam itu bukan malam upacara.

Tak seorang pun mengetahui bahwa dentang tersebut menandai permulaan dari kisah yang tidak ditulis untuk dipahami, melainkan untuk dirasakan oleh mereka yang pernah kehilangan seseorang sebelum sempat memilikinya.

Sementara itu, di ruang terdalam Menara Haningrat, halaman terakhir kitab tua perlahan menampakkan satu kalimat baru:

"Pada musim dingin kelima, salah satu dari mereka akan menghilang, tetapi yang pergi belum tentu yang terlupakan."***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewati Masa Bujangan dengan Penuh Makna

Membongkar Tabir Gelap: Fenomena Praktik Esek-Esek Terselubung di Pacitan

TIARA HILLS HOMESTAY AND CAMPING GROUND