Tirai Kesunyian di Negeri Cahaya Semu
Pada zaman tatkala embun masih dipandang sebagai mutiara langit, ketika desir angin dibaca sebagai petuah alam, dan setiap fajar disambut dengan syukur yang bening, hiduplah seorang pemuda bernama Arya. Ia bukan putra mahapatih, bukan pula darah bangsawan yang disegani. Ia hanyalah anak desa, pewaris kelembutan hati ibunya dan keteguhan tangan ayahnya yang sepanjang hidup mencari nafkah dengan peluh yang jujur.
Negeri tempat Arya berpijak dahulu termasyhur sebagai tanah yang makmur. Sawah menghampar bagai permadani zamrud, sungai mengalir laksana urat nadi kehidupan, dan hutan-hutan tua menjadi penjaga keselarasan bumi. Di negeri itu, kerja keras dimuliakan sebagai mahkota kehormatan, sedangkan kejujuran dijunjung lebih tinggi daripada emas.
Namun, roda zaman tiada pernah berhenti berputar.
Datanglah suatu cahaya yang bukan berasal dari matahari, bukan pula dari rembulan. Cahaya itu lahir dari kotak-kotak kecil yang selalu digenggam manusia. Kilauannya memesona, bunyinya bergemerincing bagai hujan keping emas yang jatuh dari langit. Banyak orang menyebutnya pintu keberuntungan. Akan tetapi, para tetua desa menamainya dengan satu sebutan yang menggetarkan hati:
Gerbang Fatamorgana.
"Jangan sekali-kali engkau mendekati gerbang itu," demikian petuah seorang kakek berambut seputih kapas, yang usianya telah lebih tua daripada pohon-pohon beringin di alun-alun desa.
"Sebab setiap langkah yang kau lakukan menuju gerbang itu, sesungguhnya ialah satu langkah menjauh dari dirimu sendiri."
Sayang, petuah itu hanyalah desir angin yang berlalu. Sedikit sekali telinga yang sudi mendengarnya.
Manusia datang dengan segunung harapan, namun pulang memikul kehampaan. Mereka menggadaikan hasil panen, menjual ternak, menghabiskan tabungan, bahkan mengorbankan kasih sayang keluarga demi mengejar bayang-bayang emas yang tak pernah benar-benar dapat digenggam.
Arya pada mulanya hanya menjadi saksi.
Ia menyaksikan tetangganya berubah. Lelaki yang dahulu murah senyum kini lebih akrab dengan kemurungan. Ibu-ibu yang dahulu menumbuk padi sambil bersenandung kini menyembunyikan air mata di balik pintu rumah yang nyaris roboh. Anak-anak kehilangan tawa karena periuk di dapur tak lagi mengepulkan uap kehidupan.
Setiap malam, negeri itu dipenuhi ratapan yang tak terdengar oleh telinga, tetapi begitu nyaring di hadapan langit.
Para ayah terus mengejar sesuatu yang mereka sebut keberuntungan. Namun semakin jauh mereka berlari, semakin jauh pula harapan itu menjauh, meninggalkan luka yang tak kasatmata.
Pada suatu senja yang dibalut kabut tipis, Arya mendatangi seorang resi yang bertapa di bawah beringin tua, pohon yang konon telah berdiri sejak negeri itu belum memiliki nama.
"Wahai Guru," tanya Arya dengan suara lirih, "mengapa manusia rela mengejar cahaya yang nyata-nyata membakar dirinya sendiri?"
Sang resi membuka mata perlahan. Tatapannya jernih laksana telaga pegunungan yang belum pernah terusik oleh debu dunia.
"Wahai anak muda," tuturnya, "kejahatan tidak selalu datang membawa wajah yang menakutkan. Ada kalanya ia mengenakan pakaian harapan. Ia tersenyum, menjanjikan kemudahan, lalu mengikat manusia dengan benang-benang yang hampir tak terlihat."
"Ia tidak merampas harta seseorang dalam sehari. Ia mengambilnya setitik demi setitik. Hingga pada suatu pagi, manusia terbangun dan mendapati bahwa yang hilang bukan sekadar emas atau perak, melainkan harga diri, kasih sayang, kehormatan, bahkan ketenteraman jiwanya."
Malam pun turun.
Langit menjadi begitu sunyi. Bintang-bintang seolah enggan berkedip, menyaksikan satu demi satu jiwa yang tersesat oleh kilau semu. Arya menengadah, membiarkan angin malam menyentuh wajahnya yang dipenuhi kegelisahan.
Saat itulah ia memahami bahwa musuh terbesar negerinya bukanlah perang, bukan pula musim paceklik yang mematikan. Musuh itu bersemayam dalam nafsu manusia sendiri nafsu yang dibungkus janji-janji kosong dan harapan yang menipu.
Maka di bawah langit yang menjadi saksi, Arya mengangkat kedua tangannya dan berikrar.
"Selama napas masih berembus dalam dada, selama matahari masih terbit dari ufuk timur dan tenggelam di barat, aku akan berjalan dari desa ke desa, dari lembah ke puncak gunung, mengingatkan setiap insan bahwa harta yang datang tanpa jerih payah acap kali pergi sambil membawa seluruh kebahagiaan."
Sebab pada akhirnya, kemenangan yang sejati bukanlah ketika tangan menggenggam emas, melainkan ketika hati mampu menolak godaan yang hendak menyesatkan langkah manusia.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E


Komentar
Posting Komentar