Lentera Terakhir di Ujung Festival

Minggu malam telah datang, membawa udara dingin yang turun perlahan dari perbukitan dan menyusup ke sela-sela rumah-rumah tua di Kota Pacitan. Tidak ada hujan malam itu. Langit justru tampak bersih, dipenuhi gugusan bintang yang bertaburan seperti serpihan kenangan yang enggan padam.

Festival Ronthek Pacitan 2026 memasuki malam penghabisan.

Tiga malam berturut-turut, kota kecil di tepi selatan Jawa itu telah dipenuhi cahaya, suara kentongan, dan ribuan manusia yang datang dari segala penjuru. Jalan-jalan yang biasanya lengang menjelma lautan langkah. Tawa anak-anak, sorak para penonton, serta irama rontek yang menggetarkan dada, semuanya menyatu menjadi sebuah perayaan yang hanya datang setahun sekali.

Namun, bagi lelaki itu, malam terakhir festival bukanlah tentang kemeriahan.

Ia adalah perpisahan.

Bukan perpisahan dengan seseorang yang baru dikenalnya kemarin sore, melainkan perpisahan dengan kenangan yang selama ini diam-diam ia rawat dalam kesunyian.

Dari sudut sebuah warung kopi yang berdiri tak jauh dari alun-alun, lelaki itu duduk seorang diri. Secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis di hadapannya, sementara angin malam memainkan dedaunan trembesi di sepanjang jalan.

Di hadapannya, ribuan manusia masih larut dalam sukacita.

Para pedagang menjajakan jagung bakar, kacang rebus, dan minuman hangat. Anak-anak kecil berlarian membawa balon warna-warni. Para pemuda memanggul alat musik tradisional, bersiap memainkan tabuhan terakhir sebelum festival benar-benar usai.

Sesekali lelaki itu tersenyum kecil.

Bukan karena hatinya telah sembuh.

Melainkan karena ia sadar bahwa waktu tidak pernah berhenti hanya untuk menunggu seseorang berdamai dengan kehilangan.

Tatkala jam menunjukkan lewat tengah malam, arak-arakan terakhir mulai melintas. Lampu-lampu sorot menari di antara asap tipis dan debu jalanan. Kentongan dipukul semakin keras, seolah para pemainnya ingin menitipkan suara mereka kepada langit agar dikenang lebih lama.

Lelaki itu berdiri.

Dingin malam menusuk hingga ke tulang, tetapi ia tetap melangkah menuju kerumunan. Untuk pertama kalinya sejak festival dimulai, ia tidak lagi mencari wajah perempuan itu di antara ribuan orang.

Sebab malam sebelumnya telah mengajarinya satu hal: ada orang-orang yang memang ditakdirkan hadir hanya untuk menjadi cerita.

Di dekat gerbang festival, ia berhenti.

Tulisan besar bertuliskan "Festival Ronthek Pacitan 2026" masih berdiri gagah, diterangi cahaya kekuningan. Akan tetapi, di balik kemegahan itu, para pekerja mulai sibuk membereskan panggung. Beberapa pedagang telah melipat tikar dagangan mereka. Petugas kebersihan perlahan menyapu sisa-sisa keramaian.

Festival belum benar-benar usai, tetapi tanda-tanda perpisahan telah tampak di mana-mana.

Angin malam bertiup lebih dingin.

Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket lusuh yang telah menemaninya bertahun-tahun. Di dalam saku sebelah kiri, jemarinya menyentuh sesuatu.

Saputangan biru itu.

Benda kecil yang dahulu diberikan perempuan yang pernah menjadi bagian terindah dalam hidupnya.

Ia mengeluarkannya perlahan.

Di bawah cahaya lampu jalan, warna saputangan itu tampak semakin pudar. Sama seperti kenangan yang sedikit demi sedikit mulai ditelan usia.

"Barangkali memang sudah waktunya," bisiknya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi bertanya-tanya dengan siapa perempuan itu berada malam ini.

Ia tidak lagi ingin mengetahui apakah perempuan itu masih mengingat jalan-jalan yang pernah mereka susuri bersama.

Sebab beberapa jawaban memang tidak pernah ditakdirkan untuk ditemukan.

Dari kejauhan, suara pembawa acara menggema, mengumumkan bahwa Festival Ronthek Pacitan 2026 resmi ditutup. Tepuk tangan bergemuruh memenuhi udara malam.

Beberapa kembang api kecil meledak di langit, memantulkan cahaya merah dan keemasan di wajah-wajah yang bahagia.

Lelaki itu mendongak.

Cahaya-cahaya itu hanya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya lenyap dalam gelap.

Begitulah, pikirnya, kenangan bekerja.

Ia datang dengan gemerlap yang membuat hati percaya bahwa semuanya akan abadi, lalu perlahan menghilang, meninggalkan sunyi yang harus diterima dengan lapang dada.

Satu per satu, orang-orang mulai pulang.

Jalan Ahmad Yani yang sejak tiga malam terakhir dipenuhi lautan manusia perlahan kembali lengang. Lampu-lampu pedagang dipadamkan. Bunyi kentongan menghilang, menyisakan desir angin dan suara kendaraan yang semakin jarang melintas.

Kota itu kembali menjadi dirinya sendiri.

Sepi.

Sederhana.

Dan sedikit melankolis.

Lelaki itu berjalan pulang menyusuri trotoar yang basah oleh embun malam. Langkahnya pelan, tetapi tidak lagi seberat sebelumnya.

Di belakangnya, festival telah berakhir.

Di dalam dirinya, sebuah kisah juga perlahan mencapai ujungnya.

Ia sadar bahwa tidak semua orang yang datang akan tinggal. Tidak semua janji akan ditepati. Tidak semua cinta akan berakhir dengan kebersamaan.

Ada yang hanya singgah, mengajarkan bahagia, lalu pergi membawa sebagian hati.

Malam semakin larut ketika ia tiba di rumahnya.

Ia duduk kembali di beranda yang sama, tempat segala kerinduan pernah bermula. Akan tetapi, kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

Bukan karena luka itu telah hilang.

Melainkan karena ia mulai menerima bahwa kehilangan adalah bagian dari perjalanan manusia.

Festival Ronthek Pacitan 2026 telah usai setelah tiga malam yang penuh cahaya.

Kota kembali sepi.

Jalan-jalan kembali lengang.

Tabuhan kentongan tinggal gema yang tersimpan di dalam ingatan.

Dan seperti kota yang perlahan kembali tenang setelah pesta besar, hati lelaki itu pun belajar menerima kekosongannya sendiri.

Di langit sebelah selatan, rembulan masih menggantung.

Sementara angin dingin dari laut Pacitan terus berembus, membawa pergi malam terakhir festival, bersama kisah tentang seorang lelaki dan perempuan yang pernah saling mencintai, namun akhirnya hanya mampu hidup di dalam kenangan.***

Penulis : Jefri asmoro Diyatno, S.E

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewati Masa Bujangan dengan Penuh Makna

Membongkar Tabir Gelap: Fenomena Praktik Esek-Esek Terselubung di Pacitan

TIARA HILLS HOMESTAY AND CAMPING GROUND