Ketika Bulan Menagih Nama yang Pernah Dipinjamkan kepada Laut
Ada perjalanan yang tidak dimulai oleh langkah.
Ada pula perpisahan yang tidak pernah terjadi karena dua orang masih saling mencari di tempat yang berbeda.
Aruna berjalan selama tujuh hari.
Ia melewati hutan yang pohonnya tumbuh terbalik, desa yang tidak memiliki pintu, dan sebuah jembatan batu yang hanya muncul ketika seseorang sedang mengingat orang yang telah melupakannya.
Ia tidak tahu ke mana angin membawanya.
Tetapi setiap malam, ketika ia membuka telapak tangan, cincin giok pemberian Lian Yue selalu terasa hangat.
Seolah-olah seseorang dari tempat yang jauh sedang menggenggamnya.
Atau mungkin seseorang sedang mencoba mencegahnya datang.
Pada hari kedelapan, Aruna tiba di sebuah kota bernama Yuehan.
Kota itu dibangun mengelilingi danau hitam.
Tidak ada ikan di dalamnya.
Tidak ada perahu yang berani melintas.
Penduduk setempat menyebut danau itu sebagai Laut yang Belum Selesai.
Konon, siapa pun yang melihat pantulan wajahnya di permukaan air akan melihat bukan wajah hari ini, melainkan wajah pada hari ketika ia mati.
Aruna tidak percaya.
Sampai seorang anak kecil menghampirinya.
"Apakah Tuan mencari seorang perempuan?"
Aruna berhenti.
"Bagaimana kau tahu?"
Anak itu menunjuk cincin di tangannya.
"Dia pernah memberikan cincin itu kepadaku."
Aruna menatapnya.
"Dia?"
Anak itu mengangguk.
"Perempuan berjubah putih."
"Di mana dia?"
Anak itu menunjuk ke arah danau.
"Di bawah."
Aruna menelan ludah.
"Di bawah apa?"
Anak itu tersenyum.
"Di bawah bulan."
Lalu ia berlari pergi.
Aruna mengejarnya.
Tetapi setelah melewati gang sempit, anak itu telah lenyap.
Yang tertinggal hanya sebuah lentera merah tergantung di ujung jalan.
Di bawah lentera itu tertulis:
Jangan percaya kepada orang yang memberimu petunjuk menuju seseorang yang ingin melupakanmu.
Malam itu bulan muncul terlalu besar.
Persis seperti pesan Lian Yue.
Jangan percaya kepada bulan ketika ia tampak terlalu dekat.
Aruna berdiri di tepi danau.
Airnya tenang.
Terlalu tenang.
Kemudian ia mendengar suara.
"Aruna."
Ia membeku.
Suara itu datang dari permukaan air.
"Lian Yue?"
Tidak ada jawaban.
Ia hampir melangkah ke air.
Namun cincin giok di jarinya tiba-tiba menjadi panas.
Aruna menarik tangannya.
Dan di permukaan danau, bayangannya berubah.
Ia melihat dirinya sendiri.
Tetapi bukan dirinya yang sekarang.
Ia melihat seorang lelaki berpakaian perang.
Di sampingnya berdiri Lian Yue.
Perempuan itu menangis.
Di tangan Aruna terdapat sebilah pedang.
Dan pedang itu berlumuran darah.
Aruna mundur.
Pantulan itu menghilang.
Namun sebelum lenyap sepenuhnya, ia melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya dingin.
Lian Yue dalam pantulan tersebut tidak memandang Aruna.
Ia memandang dirinya sendiri.
Seolah-olah takut kepada lelaki yang sedang berdiri di sampingnya.
Di sebuah istana yang tidak terlihat oleh manusia, Lian Yue sedang duduk di hadapan seorang perempuan tua.
Perempuan tua itu mengenakan mahkota dari tulang burung.
Ia adalah Penjaga Musim.
Satu-satunya manusia yang mengetahui kapan seseorang dilahirkan dan kapan seseorang seharusnya mati.
"Kau membiarkannya datang."
Lian Yue diam.
"Dia sudah sampai Yuehan."
"Aku tahu."
"Dia melihat danau."
"Aku tahu."
"Dia melihat masa lalu."
Lian Yue memejamkan mata.
"Jangan katakan lebih jauh."
Perempuan tua itu tertawa pelan.
"Masih sama."
"Apa?"
"Masih berusaha melindunginya dari kebenaran."
Lian Yue membuka mata.
"Karena kebenaran akan membunuhnya."
Perempuan tua itu menggeleng.
"Bukan kebenaran yang membunuh manusia."
"Kalau begitu apa?"
"Ingatan."
Lian Yue berdiri.
"Aku akan kembali."
Perempuan tua itu menghentikannya.
"Kau tidak boleh."
"Aku harus."
"Kenapa?"
"Karena dia mencariku."
"Itulah sebabnya kau tidak boleh menemuinya."
Lian Yue menunduk.
"Dia tidak akan berhenti."
"Memang."
"Kalau begitu biarkan aku menghentikannya."
Perempuan tua itu memandangnya lama.
"Bagaimana?"
Lian Yue tidak menjawab.
Ia mengambil pisau kecil dari meja.
Kemudian meletakkannya di telapak tangan.
"Aku akan membuatnya membenciku."
Perempuan tua itu terdiam.
"Dan kau sanggup?"
Lian Yue tersenyum.
"Tidak."
Air matanya jatuh.
"Tapi cinta tidak selalu membutuhkan seseorang untuk sanggup."
Pagi berikutnya Aruna menerima undangan.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya lambang bunga putih yang pernah ia temukan di tangga menara.
Undangan itu membawanya menuju sebuah istana di sebelah timur danau.
Istana itu kosong.
Tidak ada penjaga.
Tidak ada pelayan.
Pintu terbuka sebelum disentuh.
Di dalam, terdapat seratus delapan puluh delapan lilin.
Semuanya menyala.
Di ujung aula berdiri Lian Yue.
Untuk beberapa detik, Aruna tidak bergerak.
Ia hanya menatap.
Ada seribu pertanyaan di kepalanya.
Tetapi ketika akhirnya bertemu dengan mata perempuan itu, hanya satu yang keluar.
"Kenapa?"
Lian Yue menjawab:
"Karena kau datang."
"Aku datang mencarimu."
"Aku tahu."
"Kenapa kau pergi?"
"Karena aku tidak ingin melihatmu."
Aruna tertawa getir.
"Kau berbohong."
Lian Yue membuang pandangan.
"Aku tidak pernah mencintaimu."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan terasa lebih dingin.
Aruna menatapnya.
Lama.
Kemudian tersenyum.
Senyum seseorang yang baru saja mendengar hukuman mati tetapi belum tahu kapan eksekusinya.
"Ulangi."
"Aku tidak pernah mencintaimu."
"Lebih keras."
"Aku tidak mencintaimu."
"Kenapa tanganmu gemetar?"
Lian Yue terdiam.
Aruna melangkah mendekat.
"Kalau kau tidak mencintaiku, mengapa kau masih memakai gelang yang kuberikan?"
Lian Yue melihat pergelangan tangannya.
Gelang kayu itu masih ada.
Ia segera menutupinya dengan lengan jubah.
"Karena aku lupa melepasnya."
"Dan kenapa kau menangis?"
"Aku tidak menangis."
"Matamu mengatakan sebaliknya."
Lian Yue membalikkan badan.
"Pergilah."
Aruna berdiri di belakangnya.
"Aku akan pergi."
Lian Yue terkejut.
Aruna melanjutkan:
"Tapi bukan karena kau menyuruhku."
Ia melewati perempuan itu.
Sebelum keluar, ia berhenti.
"Suatu hari nanti, Lian Yue, kau akan menyadari bahwa manusia dapat menerima kebohongan tentang cinta."
Ia menoleh.
"Tapi hati tidak pernah pandai berbohong kepada dirinya sendiri."
Pintu tertutup.
Lian Yue akhirnya jatuh berlutut.
Ia menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar.
Dari balik tirai, lelaki berjubah merah muncul.
"Kau berhasil."
Lian Yue menangis.
"Dia pergi."
"Bagus."
"Kenapa aku merasa seperti baru saja kehilangan seluruh hidupku?"
Lelaki itu tidak menjawab.
Lian Yue mengangkat wajah.
"Katakan padaku."
"Apa?"
"Berapa lama lagi?"
Lelaki berjubah merah memandang bulan melalui jendela.
"Enam malam."
"Setelah itu?"
"Ingatan Aruna tentangmu akan lenyap."
Lian Yue memejamkan mata.
"Dan setelah itu?"
"Dia akan hidup."
Lian Yue tersenyum.
"Kalau begitu cukup."
Tetapi lelaki berjubah merah menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang bahkan Penjaga Musim tidak mengetahuinya.
Di balik jubahnya terdapat sebuah kitab hitam.
Pada halaman pertama tertulis nama:
ARUNA.
Di bawahnya ada tanggal kematian.
Namun tanggal itu telah dicoret.
Diganti dengan tulisan baru:
Lian Yue akan mati menggantikannya.
Malam keenam.
Aruna kembali ke tepi danau.
Ia tidak tahu mengapa.
Ia hanya merasa harus datang.
Bulan kembali menggantung rendah.
Kali ini ia tidak takut.
Ia menatap permukaan air.
Tidak ada pantulan dirinya.
Yang muncul adalah wajah Lian Yue.
Perempuan itu sedang tidur.
Air mata mengalir dari sudut matanya.
Kemudian terdengar suara dari dasar danau.
"Aruna..."
Ia diam.
"Aruna..."
Ia tetap tidak menjawab.
"Aruna..."
Cincin gioknya bergetar.
Kemudian suara itu berubah.
Bukan lagi suara Lian Yue.
Melainkan suaranya sendiri.
"Jangan percaya kepada Lian Yue."
Aruna mengerutkan kening.
Air danau mulai beriak.
Dari permukaannya muncul sebuah tangan.
Tangan manusia.
Tangan seorang lelaki.
Aruna mundur.
Tangan itu menggenggam sesuatu.
Sebuah pedang tua.
Pedang yang sama seperti yang ia lihat dalam pantulan sebelumnya.
Dan di bilah pedang itu terukir nama:
LIAN YUE.
Di istana, Lian Yue tiba-tiba terbangun.
Dadanya terasa sakit.
Ia memegang jantungnya.
Kemudian darah mengalir dari bibirnya.
Lelaki berjubah merah masuk.
"Waktunya hampir tiba."
Lian Yue menatapnya.
"Aruna sudah menemukan pedang itu."
Lelaki itu membeku.
"Mustahil."
"Dia melihat masa lalu."
"Kalau begitu..."
Lian Yue berdiri.
"Dia akan mengingat semuanya."
Lelaki berjubah merah menatapnya dengan wajah pucat.
"Dan jika dia mengingat semuanya sebelum bulan ketujuh"
Lian Yue menyelesaikan kalimatnya.
"kutukan akan berpindah."
"Ke siapa?"
Lian Yue menatap bulan.
Air matanya jatuh.
"Ke orang yang paling dicintainya."
Di luar istana, Aruna menggenggam pedang itu.
Dan tiba-tiba ia mengingat sesuatu.
Bukan satu kehidupan.
Bukan dua.
Melainkan ratusan.
Dalam setiap kehidupan, ia selalu menemukan Lian Yue.
Dan dalam setiap kehidupan mereka selalu gagal bersatu.
Kadang karena perang.
Kadang karena kematian.
Kadang karena waktu.
Kadang karena mereka sendiri.
Tetapi ada satu hal yang selalu sama.
Pada akhir setiap kehidupan, Lian Yue selalu mengatakan:
"Jika suatu hari kita bertemu lagi, jangan mencintaiku."
Aruna menangis tanpa mengerti mengapa.
Kemudian ia mendengar suara Lian Yue dari kejauhan.
Bukan dari sungai.
Bukan dari bulan.
Melainkan dari dalam ingatannya sendiri.
"Karena jika kau mencintaiku lagi..."
Aruna menutup mata.
Dan kalimat terakhir itu datang seperti petir:
"Kau akan mati lagi untukku."
Ketika ia membuka mata, bulan telah berubah merah.
Dan dari balik kabut, seseorang berdiri.
Lian Yue.
Namun kali ini ia membawa pedang yang sama.
Dan darah menetes dari tangannya.
Mereka saling memandang.
Tidak ada yang berani mendekat.
Tidak ada yang berani pergi.
Karena untuk pertama kalinya mereka berdua telah mengingat kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh waktu:
Mereka bukan dua orang yang gagal bertemu.
Mereka adalah dua orang yang terus dipertemukan agar salah satunya dapat terus mati.
Dan malam itu takdir akhirnya harus memilih.
Siapa yang akan mati lebih dahulu. Aruna. Atau Lian Yue.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E

Komentar
Posting Komentar