Arak-Arakan Ronthek dan Perempuan yang Hilang dari Pelukan Waktu
Malam kian menua. Jarum jam telah melewati bilangan yang biasa digunakan para pedagang untuk menutup warungnya, tetapi jalan-jalan di Pacitan justru semakin ramai oleh manusia yang hendak merayakan sukacita. Di bawah cahaya lampu yang berpendar kekuningan, ribuan langkah bersatu menuju alun-alun, menuju bunyi kentongan yang sejak sore telah dipukul bertalu-talu.
Dari berandanya yang sunyi, lelaki itu memandang arus manusia yang mengalir bagai sungai tanpa hulu. Anak-anak kecil duduk di pundak ayah mereka, para pemudi mengenakan kebaya terbaik, dan para pemuda berjalan sambil tertawa, seolah malam itu tak akan pernah berakhir.
Namun, bagi dirinya, malam justru terasa begitu panjang.
Di atas meja kayu tua, tergeletak sebuah saputangan berwarna biru pudar. Benda itu tampak biasa bagi siapa pun yang melihatnya. Akan tetapi, baginya, saputangan itu menyimpan seluruh musim yang pernah mereka lalui bersama.
Ia mengambilnya perlahan.
Aroma waktu telah menghapus sebagian besar kenangan yang melekat di sana. Meski demikian, jemarinya masih mengingat bagaimana perempuan itu dahulu menitipkan saputangan tersebut kepadanya pada sebuah malam Festival Ronthek yang telah lama berlalu.
“Agar kau tak lupa jalan pulang,” kata perempuan itu sambil tersenyum.
Betapa sederhana kalimat itu kala diucapkan. Namun kini, setelah segala yang mereka bangun runtuh oleh keadaan, kata-kata tersebut menjelma luka yang tak kunjung sembuh.
Lelaki itu memejamkan mata.
Sejenak, ingatannya kembali melayang kepada tahun-tahun yang telah terlampaui. Pada waktu itu, mereka masih muda dan begitu percaya bahwa cinta adalah benteng yang mampu menahan segala badai. Mereka berjalan menyusuri Jalan Ahmad Yani, berhenti di tepi alun-alun untuk membeli jagung bakar, lalu duduk di trotoar sambil menyaksikan arak-arakan rontek yang melintas.
Perempuan itu selalu tampak bahagia.
Setiap kali tabuhan pertama terdengar, matanya berbinar seperti langit yang dipenuhi bintang.
“Aku suka malam seperti ini,” ujarnya kala itu.
“Mengapa?”
“Karena malam membuat manusia lebih jujur terhadap perasaannya.”
Lelaki itu tertawa kecil.
“Andaikan kelak kita terpisah, apakah kau masih akan datang ke sini?”
Perempuan itu terdiam sesaat. Wajahnya yang diterpa cahaya lampu jalan tampak begitu tenang.
“Jika takdir memisahkan kita,” katanya pelan, “barangkali hanya kenangan yang akan kembali ke tempat ini.”
Kala itu, lelaki tersebut menganggapnya sekadar gurauan. Tak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya bahwa kalimat itu akan menjadi ramalan yang kelak terbukti.
Tabuhan rontek dari kejauhan semakin keras. Sesekali terdengar sorak para penonton yang menyambut kelompok-kelompok peserta dari berbagai penjuru desa. Malam Pacitan menjelma lautan cahaya dan suara.
Lelaki itu bangkit dari duduknya.
Dengan langkah ragu, ia mengenakan jaket lusuh yang telah bertahun-tahun menemaninya. Barangkali, pikirnya, berjalan ke tengah keramaian akan membuat dadanya sedikit lebih ringan. Barangkali, melihat ribuan manusia bersukacita akan menenggelamkan kesedihan yang selama ini dipeliharanya diam-diam.
Ia pun melangkah.
Jalan yang dahulu terasa begitu dekat, kini seolah memanjang tanpa ujung. Setiap sudut kota menyimpan jejak yang sulit dilupakan. Warung kopi tempat mereka berteduh saat hujan, toko kecil tempat perempuan itu membeli gelang, hingga bangku taman yang pernah menjadi saksi pertengkaran pertama mereka.
Malam itu, semuanya masih ada.
Hanya mereka yang telah berubah.
Sesampainya di tepi alun-alun, lelaki itu berdiri di antara lautan manusia. Lampu-lampu berkelap-kelip memantul di matanya yang letih. Di hadapannya, barisan peserta rontek berjalan dengan penuh semangat, memukul kentongan dan menari mengikuti irama.
Namun, di tengah riuh itu, hatinya mendadak bergetar.
Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, ia melihat sosok yang begitu dikenalnya.
Seorang perempuan.
Rambutnya masih tergerai seperti dahulu. Cara ia menundukkan kepala masih sama seperti yang diingatnya. Bahkan selendang yang dikenakannya seakan menghidupkan kembali malam-malam yang telah lama terkubur.
Dunia seolah berhenti berputar.
Tabuhan rontek perlahan menjauh dari pendengarannya. Sorak-sorai manusia berubah menjadi gema yang samar. Yang tersisa hanyalah debar jantung dan ribuan kenangan yang mendadak bangkit dari kuburnya.
Lelaki itu tak berani melangkah mendekat.
Ia hanya berdiri, memandangi sosok tersebut dari kejauhan, seperti seseorang yang menatap rumah masa kecilnya setelah bertahun-tahun mengembara.
Lalu, perlahan-lahan, perempuan itu menoleh.
Namun, sebelum mata mereka sempat benar-benar bertemu, seseorang datang menghampirinya.
Seorang lelaki lain.
Mereka berjalan berdampingan, larut di antara kerumunan yang bersorak menyambut iring-iringan rontek berikutnya.
Maka, pada malam yang dipenuhi bunyi kentongan dan cahaya lampu itu, lelaki yang berdiri sendirian akhirnya mengerti bahwa waktu memang tak pernah menunggu siapa pun.
Ada cinta yang ditakdirkan untuk tinggal.
Ada pula cinta yang ditakdirkan menjadi cerita.
Dan di tengah Festival Ronthek yang megah itu, ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan:
bahwa perempuan yang dahulu pernah menggenggam tangannya kini telah menjadi bagian dari masa lalu yang tak lagi dapat disentuh.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E





Komentar
Posting Komentar