Gadis yang Kembali dari Lorong Waktu, Lalu Pergi Sebelum Fajar Menyingsing

Ada beberapa perjumpaan di dunia ini yang tidak dapat diterangkan oleh akal manusia. Ia datang seperti angin yang tidak berwujud; tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan. Ia hadir hanya sekejap, lalu pergi meninggalkan gema yang bertahun-tahun masih terdengar di dalam dada.

Aku percaya, setiap manusia mempunyai satu nama yang tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan. Nama itu mungkin tidak lagi dipanggil, wajahnya mungkin mulai samar dimakan usia, tetapi kehadirannya diam-diam hidup di suatu ruang rahasia dalam hati.

Demikian pula kisahku.

Pada suatu masa yang telah lampau, ketika pepohonan di tepi jalan masih tampak lebih hijau dan matahari terasa lebih hangat, aku pernah jatuh cinta kepada seorang gadis yang masih mengenakan seragam putih abu-abu.

Kala itu aku telah bekerja. Aku telah mengenal kerasnya kehidupan, mengerti betapa sulitnya mencari nafkah, dan mulai memahami bahwa dunia tidak selalu berjalan menurut kehendak manusia.

Sedangkan dirinya masih berada di gerbang masa muda.

Barangkali perbedaan waktu itulah yang membuat aku hanya berani memandangnya dari kejauhan. Aku menyimpan perasaan seperti orang menyimpan surat di dalam peti kayu tua: rapi, diam, dan tidak pernah benar-benar disampaikan.

Waktu terus berjalan.

Hari-hari berubah menjadi bulan.

Bulan berubah menjadi tahun.

Aku pun kehilangan jejaknya.

Namanya tidak lagi terdengar. Wajahnya perlahan tertutup debu kenangan. Aku menyangka kisah itu telah selesai sebagaimana senja yang akhirnya tenggelam di balik cakrawala.

Tetapi hidup adalah cerita yang gemar mempermainkan manusia.

Kadang-kadang, ketika kita telah menyerah untuk mencari sesuatu, justru saat itulah sesuatu itu datang kembali.

Entah melalui jalan apa, entah melalui kehendak siapa, aku dipertemukan lagi dengannya.

Aku hampir tidak percaya.

Perjumpaan itu seperti menemukan sebuah buku lama yang pernah hilang bertahun-tahun, lalu tiba-tiba ditemukan kembali dalam keadaan masih utuh.

Aku menganggapnya sebagai keajaiban.

Hatiku yang lama tertidur mendadak terbangun.

Percakapan demi percakapan mulai terjalin. Hari-hari yang biasanya berjalan lamban mendadak memiliki warna baru.

Aku mulai menunggu pesan darinya.

Aku mulai tersenyum sendiri.

Aku mulai mengingat kembali segala perasaan yang dahulu pernah kusimpan.

Barangkali inilah yang disebut takdir.

Barangkali Tuhan mempertemukan kami kembali untuk melanjutkan cerita yang pernah terhenti.

Aku percaya demikian.

Namun hidup ternyata lebih menyerupai drama-drama panjang yang penuh rahasia.

Tidak semua pertemuan berarti kepemilikan.

Tidak semua keajaiban berakhir dengan kebahagiaan.

Kami memang dekat kembali.

Tetapi hanya beberapa hari.

Ya, hanya beberapa hari.

Hari-hari yang singkat itu terasa seperti musim semi yang hanya datang selama satu pagi.

Percakapan kami pernah mesra.

Ada kata-kata yang membuat hatiku berani berharap.

Ada perhatian-perhatian kecil yang membuatku mengira bahwa kali ini kisah kami akan berjalan lebih lama.

Namun tanpa aku mengerti sebab-musababnya, perlahan ia mulai menjauh.

Pesan-pesanku tidak lagi dibalas secepat dulu.

Pertanyaan-pertanyaanku dijawab dengan singkat.

Kadang tidak dijawab sama sekali.

Aku seperti seseorang yang berdiri di depan pintu yang perlahan ditutup dari dalam.

Aku tidak tahu siapa yang kini dekat dengannya.

Aku tidak tahu kepada siapa ia menitipkan cerita dan tawanya.

Aku tidak tahu apakah aku hanya persinggahan sejenak atau sekadar episode pendek di dalam kisah hidupnya.

Yang aku tahu hanyalah satu hal:

Ia pergi untuk kedua kalinya.

Anehnya, kepergian yang kedua terasa lebih menyakitkan daripada yang pertama.

Sebab pada perpisahan pertama, aku kehilangan seseorang yang belum kumiliki.

Sedangkan pada perpisahan kedua, aku kehilangan seseorang yang sempat membuatku percaya bahwa keajaiban memang ada.

Malam-malamku kemudian menjadi lebih sunyi.

Aku mulai bertanya kepada diriku sendiri:

Apakah aku harus menyerah?

Ataukah aku harus bertahan?

Sebagian orang mungkin akan menertawakanku.

Sebagian orang mungkin akan mengatakan bahwa aku terlalu berharap.

Tetapi manusia tidak pernah dapat mengatur kepada siapa hatinya hendak berlabuh.

Aku masih ingin mendekatinya.

Aku masih ingin mencoba.

Mungkin dengan muka yang dianggap terlalu tebal oleh dunia.

Mungkin dengan harapan yang dianggap terlalu tinggi oleh manusia.

Tetapi bukankah hidup memang aneh?

Segala sesuatu yang besar di dunia ini pernah dianggap mustahil.

Aku tidak tahu bagaimana akhir cerita ini.

Mungkin suatu hari ia akan kembali.

Mungkin ia akan benar-benar pergi.

Mungkin ia akan menemukan kebahagiaan bersama orang lain.

Atau mungkin semesta masih menyimpan bab yang belum dibuka.

Karena sesungguhnya hidup tidak pernah memberikan naskah lengkap kepada manusia.

Kita hanya diberikan satu halaman setiap hari, lalu diminta membacanya sambil berjalan.

Hari ini mungkin aku adalah seorang lelaki yang terus mengirim pesan dan menunggu balasan.

Hari ini mungkin aku adalah seorang lelaki yang bertanya-tanya mengapa seseorang yang dulu begitu hangat kini menjadi begitu jauh.

Namun siapa yang dapat memastikan cerita esok hari?

Bukankah dahulu aku pernah kehilangan dirinya bertahun-tahun, lalu secara ajaib dipertemukan kembali?

Jika pertemuan pertama yang mustahil saja dapat terjadi, maka aku tidak berhak mengatakan bahwa segala kemungkinan telah berakhir.

Karena hidup sesungguhnya adalah kitab rahasia.

Setiap halaman menyimpan misteri.

Setiap perpisahan menyimpan kemungkinan.

Dan setiap hati yang terluka selalu memiliki kesempatan untuk kembali menemukan cahaya.

Maka aku memilih untuk tetap berjalan.

Bukan semata-mata untuk mengejar seseorang yang menjauh, melainkan untuk menghormati perasaanku sendiri yang pernah begitu tulus mencintai.

Bila suatu hari ia kembali, aku akan menyambutnya dengan hati yang lebih dewasa.

Dan bila ia tidak pernah kembali, setidaknya aku dapat berkata kepada diriku sendiri:

"Aku pernah mencintai dengan sungguh-sungguh. Aku pernah menunggu dengan setia. Dan aku pernah percaya bahwa di balik setiap perpisahan, Tuhan selalu menyembunyikan rahasia yang indah bagi mereka yang tidak berhenti melangkah".***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewati Masa Bujangan dengan Penuh Makna

Membongkar Tabir Gelap: Fenomena Praktik Esek-Esek Terselubung di Pacitan

TIARA HILLS HOMESTAY AND CAMPING GROUND