Ketika Bunga yang Dinanti Ternyata Telah Berlabuh di Taman Orang Lain

Maka tibalah suatu petang yang langitnya tidak terlalu mendung dan tidak pula benar-benar cerah. Matahari perlahan turun ke peraduannya, seolah enggan menyaksikan sebuah harapan yang hendak ditutup oleh takdir.

Aku kembali memberanikan diri.

Bukan dengan kata-kata yang agung sebagaimana para pujangga menulis syair untuk putri raja. Bukan pula dengan janji-janji yang dapat mengguncang dunia.

Aku hanya mengirimkan beberapa kata yang sederhana.

"Sayang kamu aku."

Sesederhana itu.

Namun sering kali, justru kata-kata yang sederhana itulah yang memikul harapan paling berat.

Aku menunggu.

Sesaat.

Dua saat.

Lalu datanglah balasan.

"Aku enggak."

Hanya dua kata.

Pendek.

Ringan.

Namun jatuh di dada seperti batu yang dilemparkan ke permukaan telaga yang tenang.

Belum sempat aku mengerti arti gelombang yang ditimbulkannya, datang lagi satu kalimat.

"Aku udah ada yang lain."

Pada saat itu, waktu seakan berhenti berjalan.

Suara-suara di sekitarku mendadak menjadi jauh.

Angin yang sedari tadi bertiup terasa kehilangan arahnya.

Aku seperti seorang pengembara yang bertahun-tahun mencari sebuah mata air di padang tandus, lalu ketika akhirnya menemukannya, ternyata di sana telah berdiri seseorang yang lebih dahulu mengambil tempat.

Betapa anehnya hati manusia.

Ia dapat patah bukan karena kehilangan sesuatu yang telah dimiliki, melainkan karena menyadari bahwa apa yang diharapkannya ternyata tidak lagi tersedia bagi dirinya.

Aku terdiam.

Lama.

Sangat lama.

Di dalam diriku, ada seorang lelaki kecil yang dahulu pernah menyimpan wajah gadis itu di dalam ingatannya. Lelaki kecil itu bertahun-tahun menjaga satu nama, berharap suatu hari keajaiban akan datang dan menyempurnakan kisah yang tertunda.

Dan memang, keajaiban itu sempat datang.

Kami dipertemukan kembali.

Kami kembali saling menyapa.

Kami pernah bercakap mesra.

Aku sempat mengira bahwa semesta sedang menulis ulang cerita yang dahulu terputus.

Namun ternyata, semesta hanya mengizinkanku membaca beberapa lembar tambahan, bukan seluruh akhir kisah.

Akhirnya aku hanya mampu menjawab:

"Terima kasih ya."

Mungkin itulah kalimat yang paling sederhana dan paling rapuh yang pernah ku tulis.

Sebab sesungguhnya, di balik dua kata itu tersembunyi begitu banyak hal yang tidak sanggup ku ucapkan.

Terima kasih karena pernah kembali hadir.

Terima kasih karena sempat membuatku percaya pada keajaiban.

Terima kasih karena pernah membuat hari-hariku yang biasa menjadi penuh harapan.

Dan terima kasih karena akhirnya mengajarkanku bahwa tidak semua yang kembali berarti akan menetap.

Tak lama kemudian, ia membalas:

"Sama-sama ya. Kita berteman baik aja."

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

"Teman."

Alangkah ganjilnya kata itu.

Di dalam bahasa manusia, ia terdengar begitu indah.

Namun bagi seseorang yang menyimpan cinta, kata itu kadang terasa seperti gerbang yang tidak dapat dilewati lagi.

Di seberang gerbang itu ada perasaan yang besar, tetapi pintunya telah dikunci oleh kenyataan.

Aku menatap langit petang.

Entah mengapa, aku teringat pada kisah-kisah kuno dalam kitab-kitab lama. Konon, tidak semua ksatria dipersatukan dengan putri yang dicintainya. Ada yang ditakdirkan hanya menjadi penjaga dari kejauhan, mendoakan kebahagiaan sang putri meskipun kebahagiaan itu tidak bersamanya.

Barangkali beginilah rasanya menjadi dewasa.

Kita belajar menerima bahwa cinta tidak dapat dipaksa.

Kita belajar memahami bahwa hati seseorang bukanlah negeri yang dapat ditaklukkan dengan kesetiaan, pengorbanan, atau lamanya penantian.

Sebab cinta bukan perkara siapa yang datang lebih dahulu dan bukan pula siapa yang paling lama menunggu.

Cinta adalah perkara ke mana hati memilih berlabuh.

Dan pada petang itu, aku mengetahui bahwa hatinya telah berlabuh di pelabuhan yang lain.

Aku tidak membencinya.

Bagaimana mungkin aku membenci seseorang yang pernah menjadi alasan mengapa aku percaya bahwa hidup masih menyimpan kejutan?

Aku juga tidak membenci lelaki yang kini berada di sisinya.

Aku hanya sedang berduka atas sebuah kemungkinan yang tidak sempat menjadi kenyataan.

Malam mulai turun.

Bintang-bintang bermunculan satu per satu.

Aku mengangkat wajah ke langit dan tiba-tiba mengerti sesuatu.

Mungkin Tuhan memang sengaja mempertemukan kami kembali bukan untuk menyatukan kami, melainkan untuk menyelesaikan sebuah pertanyaan yang bertahun-tahun kusimpan.

Mengapa ia hilang?

Apakah aku masih mempunyai kesempatan?

Apakah kisah itu belum selesai?

Kini aku memperoleh jawabannya.

Ia kembali hanya untuk mengajarkanku cara mengucapkan selamat tinggal dengan lebih dewasa.

Dan di antara sunyi malam itu, aku berbisik kepada diriku sendiri:

"Wahai hati, jangan engkau marah kepada takdir. Tidak semua bunga yang engkau kagumi ditakdirkan tumbuh di halamanmu. Ada bunga yang hanya mekar untuk mengajarkanmu arti mengagumi tanpa memiliki. Ada perjumpaan yang hanya berlangsung sekejap agar engkau belajar melepaskan dengan ikhlas."

Lalu aku pun melangkah pulang.

Bukan sebagai lelaki yang menang.

Bukan pula sebagai lelaki yang kalah.

Melainkan sebagai seorang pengembara yang baru saja menyelesaikan satu bab dari kitab kehidupannya dan bersiap membuka halaman berikutnya, yang hingga kini masih disembunyikan oleh Sang Pemilik Waktu.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewati Masa Bujangan dengan Penuh Makna

Membongkar Tabir Gelap: Fenomena Praktik Esek-Esek Terselubung di Pacitan

TIARA HILLS HOMESTAY AND CAMPING GROUND