Bayang-Bayang di Balik Kembang Senja

Pada masa ketika desir angin masih dianggap utusan alam, ketika dedaunan yang gugur dibaca sebagai perlambang isi kalbu, dan ketika segala rasa lebih sering dipendam daripada diucapkan, hiduplah seorang pengelana muda bernama Aruna.

Pada suatu petang yang lengang, tatkala cahaya surya mulai tenggelam di balik pucuk-pucuk pepohonan, berjumpalah ia dengan seorang dara yang oleh orang-orang di kampung hanya disebut Sekar Wening. Parasnya teduh laksana rembulan pada malam purnama, tetapi hatinya tersimpan rapat bagaikan mutiara di dasar samudra.

Aruna menatap dara itu dengan penuh hormat.

"Wahai putri yang elok budinya," tuturnya perlahan, "kiranya berkenankah paduka menerima hidangan sederhana sebagai penawar penat perjalanan?"

Sang dara hanya menggeleng perlahan.

"Hamba tiada berkehendak."

Pemuda itu kembali merendahkan suaranya.

"Janganlah sungkan. Pilihlah santapan apa pun yang kiranya berkenan di hati. Segala ikhtiar akan hamba usahakan."

Sekar Wening tetap menundukkan wajah.

"Hamba tetap tiada berkenan."

Aruna menghela napas panjang.

"Apakah kiranya wajah hamba terlalu buruk dipandang sehingga paduka enggan menerima uluran ini?"

Dara itu mengangkat pandangan sebentar.

"Bukan demikian. Hanya saja, hati ini memang tiada menuju kepada tuan."

Ucapan itu laksana anak panah yang menembus dada, tetapi Aruna masih mencoba mencari arti di balik setiap kata.

"Bukankah setiap penolakan tentu memiliki sebab yang tersembunyi?"

Sekar Wening tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai embun sebelum lenyap diterpa matahari.

"Tuan gemar menjadikan segala perkara seolah berasal dariku. Itulah yang membuat hati ini semakin jauh."

Pemuda itu terdiam sejenak.

"Lalu dahulu... ketika paduka menyapaku dengan tutur yang begitu lembut, bukankah hamba mengira ada setitik kasih yang mulai tumbuh?"

Dara itu terkekeh lirih.

"Sapaan halus adalah adatku kepada siapa pun yang kujumpai. Janganlah tuan menafsirkan embun sebagai hujan."

Aruna menundukkan kepala.

"Kiranya hanya hamba seorang yang menanam harapan di ladang yang memang tidak pernah disediakan."

Sekar Wening tidak menjawab.

Keheningan turun bersama angin senja.

Beberapa saat kemudian Aruna berkata kembali.

"Sungguh, paduka adalah perempuan yang dianugerahi keelokan budi yang tiada banyak dimiliki insan lain."

Sekar Wening mengangkat alis.

"Apakah maksud segala pujian itu?"

"Hamba tiada hendak mengubah apa pun. Sejak mula, niat hamba hanya ingin menemani perjalanan paduka ketika takdir mempertemukan kita di tepi jalan."

Dara itu menghela napas.

"Pada mula perjumpaan, hati ini masih tenteram. Namun setelah beberapa kali bertemu, ketenteraman itu perlahan sirna."

Kata-kata itu bagai dedaunan kering yang jatuh satu demi satu.

Aruna mencoba tersenyum, meski senyumnya lebih menyerupai luka.

"Hamba mengira diamku telah cukup menjaga sopan santun."

Sekar Wening menggeleng.

"Justru tuan terlalu banyak mengikat segala sesuatu dengan perasaan sendiri. Seolah tiap langkahku wajib memiliki arti bagi hati tuan."

Pemuda itu menatap langit yang mulai diselimuti warna tembaga.

"Barangkali benar. Barangkali hati ini hanyalah perahu kecil yang hanyut mengikuti arus bayangan."

Namun sebelum kalimat itu selesai, Sekar Wening mengangkat telapak tangannya.

"Wahai pengelana, cukuplah."

Aruna terdiam.

"Diamkanlah sejenak segala kata. Sebab tatkala hati sedang bergelora, petuah terindah sekalipun hanya akan terdengar sebagai gemuruh yang menyakitkan."

Pemuda itu mengangguk perlahan.

"Baiklah."

Keheningan kembali memayungi keduanya.

Setelah beberapa lama, Sekar Wening berkata dengan suara yang lebih lembut daripada desir bambu diterpa angin.

"Ketahuilah. Apabila seorang perempuan telah memperlihatkan amarahnya, sesungguhnya bukan karena ia membenci kata-kata semata. Melainkan karena ia berharap seseorang cukup bijaksana untuk memahami diam."

Maka semenjak petang itu Aruna mengerti satu perkara yang tidak pernah diajarkan kitab-kitab tua.

Bahwa kasih yang dipaksakan hanya akan menjadi beban.

Bahwa perhatian yang berlebihan dapat menjelma belenggu.

Dan bahwa ada kalanya bentuk penghormatan yang paling luhur kepada seseorang ialah membiarkannya berjalan menuju takdir yang dipilihnya sendiri.

Sejak saat itu, pengelana itu tidak lagi mengejar bayang-bayang yang terus menjauh.

Ia memilih melanjutkan perjalanan bersama angin, membawa kenangan sebagai guru, bukan sebagai penjara bagi hati.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewati Masa Bujangan dengan Penuh Makna

Membongkar Tabir Gelap: Fenomena Praktik Esek-Esek Terselubung di Pacitan

TIARA HILLS HOMESTAY AND CAMPING GROUND