Malam yang Kehilangan Bayang
Tatkala rembulan menggantung pucat di langit sebelah selatan, dan desir angin dari laut Pacitan mengembara menyusuri jalan-jalan batu yang mulai lengang, seorang lelaki duduk seorang diri di beranda rumahnya. Di kejauhan, suara tabuh Ronthek menggema laksana panggilan dari masa silam, memecah sunyi yang bersarang di dalam dada.
Malam itu bukan malam yang asing baginya. Ia mengenali segala pertanda yang hadir: aroma tanah selepas senja, cahaya lampu yang memantul di genangan air, serta suara riuh manusia yang berbondong-bondong menuju alun-alun kota. Festival Ronthek Pacitan tahun itu kembali digelar dengan segala kemegahannya. Namun, bagi dirinya, gemerlap itu hanyalah lentera-lentera yang menerangi kehampaan.
“Ah, beginikah rupanya nasib manusia?” gumamnya lirih.
Dahulu, pada malam-malam serupa, langkah mereka pernah beriringan menyusuri jalan yang sama. Gadis itu berjalan di sisinya, dengan senyum yang lebih hangat daripada pelita dan tawa yang mampu mengalahkan nyanyian ombak. Setiap denting Ronthek adalah kebahagiaan, setiap keramaian adalah perayaan cinta yang mereka yakini akan abadi.
Kini, semuanya tinggal serpihan kisah.
Di hadapannya terbentang jalan menuju pusat kota. Dari sana, sesekali terdengar suara para pemuda memainkan kentongan, disusul sorak-sorai anak-anak yang berlarian mengejar malam. Namun, lelaki itu tetap diam. Bukan karena takut menatap keramaian, melainkan sebab hatinya telah terlalu letih menanggung kehilangan.
“Mungkin engkau berada di sana,” bisiknya kepada angin. “Mungkin engkau sedang tertawa bersama seseorang yang kini menggantikan tempatku.”
Tiada jawaban.
Angin hanya membawa harum bunga kenanga dari halaman tetangga, lalu lenyap bersama bayang-bayang pepohonan.
Ia menengadah. Langit malam tampak begitu luas, seakan hendak menelan segala kenangan yang tersisa. Dalam kesunyian itu, wajah gadis yang pernah dicintainya kembali hadir: matanya yang teduh, suaranya yang lembut, dan janji-janji yang dahulu mereka ukir di bawah langit Pacitan.
Betapa cepat waktu berubah.
Pada suatu malam Festival Ronthek beberapa tahun silam, mereka pernah berdiri di tepi jalan besar, menyaksikan barisan peserta melintas dengan busana warna-warni. Gadis itu menggenggam tangannya erat-erat.
“Kelak,” ujar gadis itu kala itu, “jika usia telah renta dan rambut kita memutih, bawalah aku kembali ke tempat ini.”
Lelaki itu mengangguk tanpa ragu, sebab cinta telah membuatnya percaya bahwa dunia tak akan pernah berubah.
Namun, siapa yang dapat mengalahkan takdir?
Hari-hari bergulir bagai air sungai yang tak pernah kembali ke hulu. Kesibukan, pertengkaran kecil, kesalahpahaman yang dibiarkan tumbuh, hingga akhirnya jarak menjelma jurang yang memisahkan dua hati. Tak ada perpisahan yang megah. Tak ada air mata yang disaksikan orang banyak. Yang tersisa hanyalah pesan-pesan yang semakin jarang, sapaan yang semakin dingin, hingga pada suatu pagi, cinta itu diam-diam pergi.
Sejak saat itu, lelaki tersebut belajar memahami bahwa kehilangan bukanlah perkara ditinggalkan, melainkan perkara membiasakan diri hidup tanpa seseorang yang pernah menjadi alasan pulang.
Malam semakin larut.
Di kejauhan, tabuhan rontek kian menggema, mengiringi langkah orang-orang yang bersuka cita. Namun, di dalam rumah kecil itu, seorang lelaki masih bergeming, ditemani secangkir kopi yang telah dingin dan kenangan yang tak kunjung usai.
Ia ingin melangkah menuju festival itu.
Ia ingin menyaksikan kembali gemerlap yang dahulu pernah membuat mereka bahagia.
Namun, kedua kakinya terasa berat.
Bukan sebab takut bertemu dengannya.
Bukan pula sebab khawatir akan luka lama.
Melainkan karena ia sadar, tempat yang dahulu mereka datangi bersama kini hanyalah panggung bagi kenangan yang telah kehilangan pemerannya.
Malam Minggu itu, Pacitan berselimut cahaya dan bunyi-bunyian.
Sedangkan dirinya, duduk sendiri dalam kerajaan sunyi, memandangi masa lalu yang tak mungkin kembali.
Dan entah di sudut kota yang mana, perempuan yang pernah menjadi semesta itu kini sedang tersenyum bersama siapa.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno, S.E

Komentar
Posting Komentar