Di Antara Doa yang Tidak Dijawab dan Harapan yang Belum Padam
Setelah malam itu, aku tidak lagi mengirim banyak pesan. Bukan karena aku telah berhenti menyayanginya. Bukan pula karena aku tiba-tiba pandai melupakan. Aku hanya sedang belajar menerima bahwa ada saatnya cinta harus duduk diam dan tidak mengetuk pintu yang sudah ditutup oleh pemiliknya. Hari-hari kembali berjalan seperti semula. Pagi datang dengan cahaya yang sama. Senja kembali turun dengan warna yang serupa. Orang-orang lalu-lalang seperti biasanya. Namun ada sesuatu di dalam diriku yang telah berubah. Aku menjadi seorang pengembara yang membawa satu nama di dalam ingatan dan satu pertanyaan di dalam hati. Sesekali aku masih membuka jendela percakapan kami. Kubaca kembali kata demi kata yang pernah kami tulis. Ada sapaan yang dulu membuatku tersenyum. Ada candaan kecil yang dahulu terasa begitu hangat. Dan ada beberapa kalimat mesra yang kini berubah menjadi peninggalan masa lalu. Aneh sekali. Tulisan yang sama, ketika dibaca pada waktu yang berbeda, dapat melahirkan perasaan yang ...