Postingan

Semboyan Presisi dan Realita: Antara Janji dan Luka Rakyat

Gambar
Nasional - Di tengah hiruk-pikuk janji reformasi kepolisian, rakyat masih menyaksikan tragedi yang seharusnya tak perlu terjadi. Jalanan bukan lagi sekadar arena lalu lintas, melainkan medan pertempuran yang menelan nyawa manusia biasa. “Selama rakyat masih bisa mati di tangan aparat, semboyan Presisi tidak lebih dari slogan kosong.” Kalimat ini terdengar keras, namun menggambarkan kenyataan pahit yang kerap kita saksikan. Presisi yang Dijanjikan Kepolisian Republik Indonesia memperkenalkan konsep Presisi, Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan sebagai wajah baru penegakan hukum. Sebuah jargon yang terdengar megah: polisi yang lebih manusiawi, dekat dengan rakyat, dan adil dalam menegakkan hukum. Namun, jargon itu nyatanya kerap berhenti di spanduk, baliho, atau konten media sosial resmi. Di lapangan, rakyat kecil masih sering menjadi korban nyawa bisa melayang tanpa keadilan yang nyata. Rakyat vs Aparat: Luka yang Berulang Tragedi demi tragedi masih terjadi. Berita tenta...

JLS Pacitan Jalan Mulus Penerangan Minus: Jalan Nasional atau Jalur Uji Nyali di Malam Hari?

Gambar
Nasional - Pacitan punya wajah ganda di Jalur Lintas Selatan (JLS). Di siang hari, ia tampak menawan: aspal hitam membentang mulus, rambu lalu lintas masih terjaga, dan pemandangan pesisir menjadi teman perjalanan. Banyak yang bilang, "Kalau ke Pacitan lewat JLS, rasanya seperti berada di jalan tol gratis." Namun begitu malam tiba, wajah JLS berubah total: gelap gulita, sunyi, dan penuh misteri. Jalan yang di siang hari terasa ramah, di malam hari menjelma seperti jalur uji nyali. Ironi inilah yang membuat kita perlu menguliti lebih jauh persoalan penerangan jalan. Karena infrastruktur publik bukan hanya soal "siang yang indah" tetapi juga "malam yang aman". Dan Pacitan, dengan segala cita-cita besarnya sebagai kota wisata dan gerbang selatan Jawa Timur, justru mempertaruhkan keselamatan dan reputasinya di jalan vital ini. Potret JLS Siang yang Menawan, Malam yang Menegangkan Di siang hari, JLS adalah favorit wisatawan dan pengendara. Jalannya lebar, aspal...

Ekspedisi Merah Putih 70-Mile Sea Paradise: Membawa Pacitan ke Panggung Dunia

Gambar
Nasional - Pacitan merupakan sebuah kabupaten di ujung barat daya Jawa Timur, kini kembali menunjukkan jati dirinya sebagai daerah yang kaya akan potensi bahari. Tidak hanya dikenal dengan deretan pantainya yang memesona, kini Pacitan berani melangkah lebih jauh dengan meluncurkan sebuah gerakan monumental: Ekspedisi Merah Putih 70-Mile Sea Paradise. Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya nyata untuk meneguhkan posisi Pacitan sebagai destinasi wisata kelas dunia. Dengan penelusuran 70 pantai sepanjang 70 mil laut, Pacitan ingin menunjukkan kepada bangsa bahkan dunia bahwa mereka memiliki sesuatu yang berharga, bukan hanya untuk warga lokal, tetapi juga untuk Indonesia dan masyarakat global. Semangat Persatuan dalam Ekspedisi Dimulai pada 19-21 Agustus 2025, ekspedisi ini melibatkan dua tim inti, yaitu Tim Barat dan Tim Timur, yang masing-masing berangkat dari ujung garis pantai berbeda: Pantai Nyawiji di Donorojo dan Pantai Tirisan di Sudimoro. Kedua tim beranggo...

80 Tahun Merdeka, Tapi Sudahkah Kita Benar-Benar Merdeka?

Gambar
Nasional - Bulan Agustus datang lagi. Bendera merah putih berkibar, gapura di hias, lomba makan kerupuk, balap karung, panjat pinang. Semua orang bersorak: MERDEKA!. Tapi pertanyaannya: apa kita benar-benar sudah merdeka? Kita suka merayakan dengan seremonial yang megah, tapi sering lupa bahwa kemerdekaan itu bukan sekadar tanggal 17 Agustus. Kemerdekaan adalah kenyataan hidup rakyat sehari-hari. Dan jujur saja, banyak dari kita masih merasa terjajah oleh kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, birokrasi yang lamban, dan elit politik yang lebih sibuk berdrama daripada bekerja. Tema tahun ini indah sekali: “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.” Tapi mari kita kritisi: apakah rakyat benar-benar sejahtera? Apakah Indonesia benar-benar berdaulat? Atau jangan-jangan kita masih menjadi penonton di negeri sendiri, sementara kekayaan alam kita diobral ke asing dan rakyat kecil hanya dapat remahannya? ASN: Garda Depan atau Beban Negara? Mari bicara jujur. ASN sering disebut garda de...

Membongkar Tabir Gelap: Fenomena Praktik Esek-Esek Terselubung di Pacitan

Gambar
Pacitan - Kota yang selama ini dikenal dengan sebutan “Kota Seribu Satu Goa” dan citra religiusnya, mendadak menjadi pusat perhatian karena mencuatnya isu sosial yang menyentak banyak pihak. Praktik esek-esek terselubung, sebuah bentuk prostitusi digital yang beroperasi secara diam-diam, diduga mulai menjamur dan menyasar segmen yang mengejutkan: perempuan muda pekerja pabrik. Dalam investigasi lapangan dan pengumpulan informasi dari berbagai sumber, ditemukan bahwa praktik ini difasilitasi melalui salah satu aplikasi perpesanan populer sering disebut “Aplikasi Hijau” yang dalam kondisi normal digunakan untuk komunikasi pribadi. Namun dalam praktik undergroundnya, aplikasi ini berubah fungsi menjadi ruang transaksi seksual yang tertutup dan sulit dideteksi. Teknologi yang Tak Lagi Netral Kehadiran teknologi sejatinya memudahkan kehidupan. Tapi dalam kasus ini, justru menjadi alat bantu untuk praktik yang menyimpang dari norma sosial dan hukum. Disamarkan dengan status, kode, dan jaring...

Kapan Nikah? Pertanyaan atau Hinaan yang Dibalut Bentuk Kepedulian Sosial

Gambar
Nasional - Pernikahan adalah momen sakral. Namun di banyak sudut Indonesia, momen ini kini seringkali bertransformasi menjadi panggung pertunjukan sosial. Bahkan dalam kasus pernikahan yang terjadi akibat kehamilan di luar nikah yang secara sosial disebut “kecelakaan” pesta tetap digelar dengan mewah. Pelaminan megah, hiburan dangdut, dan dokumentasi drone yang diunggah ke TikTok dengan caption: “Akhirnya halal.” “Menikahlah karena cinta dan kesiapan, bukan karena kecelakaan dan rasa malu.” Semua orang bertepuk tangan. Tapi tak ada yang benar-benar tahu: apakah kedua mempelai siap? Apakah mereka menikah karena cinta, atau sekadar menutupi rasa malu? Budaya Pamer dan Tekanan Sosial yang Membungkam Realitas Kita hidup di masyarakat yang sering kali lebih peduli pada penampilan luar daripada kesehatan batin. Dalam urusan pernikahan, fenomena ini sangat nyata. Ketika seorang perempuan hamil di luar nikah, masyarakat jarang memberi ruang untuk dukungan psikologis, edukasi seksual, atau pros...

Pengibaran Bendera One Piece Jadi Simbol Protes? Fenomena Viral yang Bikin Pemerintah Panik!

Gambar
Nasional - Menjelang HUT ke‑80 RI, publik dibuat geger oleh pengibaran bendera Jolly Roger tengkorak bajak laut dari anime One Piece yang ramai dikibarkan di tiang bambu, halaman rumah, hingga kendaraan. Detik News melaporkan, “Polisi menegaskan pemasangan bendera selain Merah Putih di detik‑detik kemerdekaan adalah pelanggaran.” Anehnya, simbol anime ini dipantau dan dianggap serius oleh aparat jauh lebih keras dibanding kasus korupsi sistemik atau mafia hukum padahal isu itu jauh lebih merusak bangsa. Apa arti media pop culture ini hingga bikin negara “gemetar”? CNN Indonesia menuturkan bahwa “Sebagian anak muda melihat Jolly Roger ini sebagai perlawanan atas sistem yang tiap hari mempersulit hidup mereka, bukan sekadar terinspirasi anime.” Ini bukan soal fandom, tetapi bentuk protes visual ketika ruang kata dianggap telah dibungkam. Menurut Kumparan, bendera itu mewakili narasi perjuangan melawan ketidakadilan yang resonan bagi supir truk di Nganjuk yang berkata bahwa simbol bajak l...

Ancaman Rokok Ilegal: Bayang-Bayang Kelam di Balik Asap Pacitan

Gambar
Pacitan - Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur dikenal dengan pantainya yang eksotis dan masyarakatnya yang ramah, kini tengah menghadapi ancaman yang pelan tapi pasti menggerogoti fondasi daerah yaitu maraknya peredaran rokok ilegal yang makin tak terkendali. Apa yang tampak sederhana, yakni sebatang rokok tanpa pita cukai, sejatinya menyimpan konsekuensi luas: merusak perekonomian, mencederai kesehatan publik, hingga melemahkan masa depan anak-anak kita. Sebuah bahaya sistemik yang jika tak segera dilawan, akan menjadi bom waktu bagi generasi Pacitan. Rokok ilegal bukan hanya tentang harga murah atau jual beli gelap. Ia adalah bentuk pengkhianatan terhadap negara dan masyarakat lokal. Setiap batang rokok tanpa cukai yang dikonsumsi, berarti negara kehilangan sumber pendapatan sah, yang seharusnya kembali ke rakyat dalam bentuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan. Pacitan bukan daerah kaya dengan anggaran besar. Saat pendapatan daerah bergantung pada distrib...

Membangun Peradaban dari Rumah: Literasi Keuangan Calon Pengantin Pacitan, Sebuah Langkah Revolusioner Menuju Keluarga Mandiri dan Sejahtera

Gambar
Pacitan - Kota yang jauh di pesisir selatan Jawa Timur ini Tidak Lagi Sekadar Kota Seribu Satu Goa. Tapi Kota Seribu Satu  Langkah Maju Menuju Keluarga Tangguh. Di tengah rutinitas kehidupan masyarakat dan hiruk-pikuk tantangan ekonomi nasional, muncul satu berita positif yang patut kita apresiasi bersama. Kementerian Agama Kabupaten Pacitan kembali menorehkan langkah progresif dengan menyelenggarakan kegiatan literasi keuangan keluarga untuk calon pengantin, pada Rabu, 23 Juli 2025, di Gedung BKM Masjid Agung Pacitan. Sedikitnya 15 pasangan muda yang akan menikah diberi bekal penting bukan hanya soal akad dan cinta, tapi juga bagaimana mengelola realitas kehidupan rumah tangga yaitu terkait keuangan. Langkah ini seolah menegaskan bahwa Pacitan tidak hanya fokus pada pembangunan fisik atau infrastruktur semata, tetapi juga pada pembangunan karakter dan ketahanan keluarga. Ini adalah propaganda positif yang tidak boleh berhenti hanya sebagai berita satu hari. Ini harus kita geloraka...

Menjemput Asa Baru KONI Pacitan: Saatnya Olahraga Lokal Melesat Menuju Puncak Prestasi

Gambar
Pacitan - Di tengah suasana Kabupaten Pacitan yang semakin berkembang, ada denyut semangat lain yang sedang menyala di bidang yang tak kalah penting yaitu olahraga. Saat ini, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Pacitan tengah bersiap menyelenggarakan Musyawarah Olahraga Kabupaten (Musorkab), sebuah forum resmi yang menentukan arah kepemimpinan dan masa depan olahraga lokal. Bagi sebagian orang, Musorkab mungkin hanya dianggap sebagai agenda rutin lima tahunan. Namun bagi para penggiat olahraga, atlet muda, pelatih, dan masyarakat yang mencintai dunia sport, momen ini adalah simbol kebangkitan, momentum evaluasi, dan tonggak awal dari harapan baru. Dengan nada penuh semangat dan keyakinan, mari kita melihat bahwa apa yang sedang terjadi dalam dinamika KONI Pacitan bukanlah konflik atau perebutan kekuasaan. Ini adalah bukti hidupnya partisipasi, hadirnya harapan, dan bukti bahwa organisasi olahraga kita benar-benar diperhatikan dan dicintai. Siapa sangka, dari kota kecil ...

Perebutan Kursi Ketua KONI Pacitan: Momentum Evaluasi dan Harapan Baru untuk Olahraga Daerah

Gambar
Pacitan - Akhir-akhir ini jagat media lokal di Pacitan diramaikan oleh isu hangat yaitu adanya perebutan kursi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Pacitan. Sejumlah nama mulai bermunculan sebagai kandidat, dari tokoh olahraga, politisi lokal, hingga profesional di bidang hukum dan media. Isu ini bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi empuk KONI, tapi tentang bagaimana masa depan olahraga Pacitan akan dibentuk oleh pemimpinnya. Dalam dunia olahraga, khususnya di tingkat daerah, kepemimpinan KONI bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah kunci motor penggerak kemajuan prestasi atlet, pembinaan cabang olahraga (cabor), serta sinergi dengan pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, sudah sepantasnya masyarakat memberikan perhatian penuh pada dinamika ini, bukan dengan kecurigaan, tapi dengan semangat membangun. Dari informasi yang beredar di internet, beberapa kandidat yang disebut-sebut mencuat ke permukaan diantaranya ada nama-nama lama yang pernah men...